Jumat, 31 Juli 2026

Bab 17 Seteguk Air Untuk Dewa Mahadewa.

Bab 17 Seteguk Air Untuk Dewa Mahadewa.

Suatu hari jalanan menuju Kasi Wiswanatha rame banget, ramenya bukan main. Dari ujung gang sampai ke gerbang kuil dipenuhi peziarah. Ada yang jalan kaki nyeker dari jauh, ada yang bawa tandu, ada yang dorong gerobak kecil isinya bunga marigold segar, kendi susu, buah-buahan, sama air suci. Wajah mereka serius semua, bibirnya komat-kamit baca mantra, di tangan menggenggam persembahan buat Dewa Śiwa. 

Dari atas gunung Kailas, Dewi Parwati melihat pemandangan itu sambil senyum. Tapi lama-lama alisnya berkerut. "Prabhu," katanya pelan ke Mahādeva yang duduk tenang di sampingnya, "lihat tuh, ribuan orang. Semuanya datang bawa persembahan buat Paduka. Tapi... apakah mereka bener-bener kenal Paduka?"

Śiwa cuma senyum. Senyum yang tenang banget, senyum yang bikin trisula di sampingnya aja keliatan adem. "Kalau gitu kita tes aja, Devī," jawabnya. "Kita lihat siapa yang bawa persembahan, dan siapa yang bawa hati."

Gak lama kemudian di pinggir jalan tanah yang bebatuan, pas jalur paling ramai menuju kuil, terbaringlah seorang kakek tua. Badannya kurus, kulitnya penuh luka, bajunya compang-camping, bibirnya pecah-pecah kehausan. Di sebelahnya duduk seorang perempuan tua, rambutnya kusut, matanya bengkak karena nangis terus. Itu Śiwa dan Pārvatī yang udah nyamar.

Perempuan tua itu megang tangan suaminya yang lemah, terus pas ada peziarah lewat dia langsung bangkit, suaranya gemetar. "Tolong... tolong... suami saya kehausan. Dia hampir gak kuat. Kasih dia seteguk air aja, saya mohon."

Peziarah pertama berhenti sebentar, ngelirik kendi di tangannya. Isinya air suci buat abhiṣeka Śiwa nanti di kuil. "Maaf, Bu," katanya buru-buru. "Ini air khusus buat Mahādeva. Gak boleh dipake sembarangan. Nanti jadi gak suci." Dia langsung jalan lagi, langkahnya malah dipercepat.

Peziarah kedua dateng, bawa nampan penuh bunga. "Saya udah bernazar, Bu. Semua ini buat Śiwanātha. Kalau saya kasih ke orang, nazar saya batal." Dia nunduk hormat ke arah kuil yang udah keliatan puncaknya, terus berlalu.

Peziarah ketiga, keempat, kelima... jawabannya sama. "Gak bisa." "Ini persembahan." "Takut dosa kalau dipake buat lain." Mereka semua takut banget persembahannya "kotor" kalau dipake buat nolong orang. Mereka saking fokusnya sama Tuhan di dalam kuil, sampai lupa Tuhan yang lagi terbaring kehausan di depan mata.

Matahari udah miring. Kakek tua itu napasnya makin lemah. Perempuan tua itu udah hampir putus asa.

Pas itulah muncul satu orang. Bajunya kusut, rambut acak-acakan, baunya... ya, orang kampung udah tau dia. Pemabuk. Tiap hari kerjanya mabuk, tiduran di emperan, diomongin orang. Di tangannya cuma ada satu kendi kecil, isinya air minum biasa. Itu aja bekalnya seharian.

Dia liat keributan kecil di pinggir jalan. Liat kakek tua itu. Liat perempuan tua yang nangis. Gak pake mikir panjang, dia langsung jongkok, lututnya nyentuh tanah. Tangannya gemetar ngangkat kepala si kakek pelan-pelan, terus kendi itu ditempelin ke bibir si kakek. "Minum, Kek... minum pelan-pelan," bisiknya.

Air itu dituang sampai habis. Sampai setetes terakhir. 

Perempuan tua itu nanya dengan suara serak, "Nak... kamu gak mau bawa air itu ke kuil? Itu kan buat Śiwa."

Pemabuk itu nyengir, giginya kuning, tapi matanya jernih banget. "Bu, gimana saya tega liat orang mati kehausan cuma karena saya mau nyenengin Tuhan di kuil? Kalau Dia beneran Mahādeva, kalau Dia beneran Maha Segalanya... masa Dia lebih seneng kendi air daripada liat orang yang ditolong? Saya gak pinter sembahyang, Bu. Saya gak punya bunga, gak punya susu. Saya cuma punya ini." Dia nunjuk kendi kosongnya. "Dan saya kasih ke orang yang butuh. Kalau itu salah, ya biarin."

Begitu kata terakhir itu keluar, angin berhenti. Suara pasar, suara langkah kaki, semuanya mendadak senyap. Dari kendi kosong itu keluar cahaya keemasan, nyilaukan banget. Cahaya itu nyelimutin si kakek dan si perempuan tua. 

Luka-lukanya hilang. Bajunya berubah jadi kain macan dan sari merah. Di dahinya muncul bulan sabit. Di lehernya ada ular. Di tangannya ada trisula. 

Di depan pemabuk itu sekarang berdiri Dewa Śiwa dan Dewi Pārvatī. 

Para peziarah yang dari tadi jalan buru-buru ikutan berhenti. Mereka noleh, terus langsung jatuh berlutut. 

Śiwa ngeliat si pemabuk, terus ngangkat tangannya memberkati. Suaranya menggemuruh tapi lembut. "Hari ini kamu udah ngasih air itu langsung ke Aku. Mereka bawa kendi ke kuil untuk-Ku, tapi pas Aku sendiri minta seteguk air, mereka nolak. Mereka cari Aku di batu, di patung, di mantra... tapi mereka lupa Aku juga tinggal di dalam setiap makhluk yang kelaparan, yang haus, yang sakit."

Pārvatī maju, matanya berkaca-kaca. "Ingat ini baik-baik. Aku bukan cuma ada di dalam garbhagriha. Aku ada di setiap tangan yang menolong, di setiap hati yang berbelas kasih. Barang siapa melayani sesama dengan cinta, sesungguhnya dia sudah mempersembahkan yang paling suci kepada-Ku."

Si pemabuk langsung nunduk, nangis. "Prabhu... saya... saya orang hina..."

"Tidak ada yang hina di mata-Ku," kata Śiwa. "Yang hina itu hati yang keras padahal membawa persembahan."

Para peziarah tertunduk dalam-dalam. Malu. Di tangan mereka masih ada bunga dan susu, tapi rasanya berat banget. Baru hari itu mereka ngerti. Selama ini mereka lari-lari ke kuil bawa banyak hal, tapi lupa hal paling penting: melihat Tuhan di mata orang yang butuh bantuan di pinggir jalan.

Sejak hari itu, di Kāśī ada cerita baru yang diturunin dari mulut ke mulut. Katanya, kalau kamu mau ketemu Śiwa, gak usah jauh-jauh. Cukup berhenti sebentar pas liat orang kesusahan. Kasih air, kasih roti, kasih tangan. Karena bisa jadi, di balik orang itu... Mahādeva sendiri yang lagi ngetes hati kita.