Jumat, 30 Oktober 2026

Kisah Dewi Saraswati.

Kisah Dewi Saraswati.
 
Dewi Saraswati adalah perwujudan kekuatan Tuhan yang melambangkan ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, seni, dan kebenaran. Nama "Saraswati" berasal dari bahasa Sanskerta — "saras" berarti sesuatu yang mengalir, dan "wati" berarti yang memiliki. Dengan demikian, Saraswati berarti "yang memiliki aliran ilmu yang senantiasa mengalir tanpa pernah kering". Beliau digambarkan sebagai sosok yang bercahaya putih bagai sinar bulan, duduk di atas bunga teratai putih, memegang kitab suci, tasbih, dan alat musik kecapi atau wina — melambangkan bahwa kebijaksanaan harus diiringi dengan keindahan dan kesucian hati.
 
Kisah keagungan Dewi Saraswati bermula sejak zaman Weda. Dalam Rigveda, kitab suci tertua umat Hindu, Dewi Saraswati dipuja sebagai sungai suci yang menghidupkan dan menyucikan, lalu maknanya berkembang menjadi dewi ucapan dan pengetahuan. Diceritakan bahwa ketika dunia dilanda kegelapan karena raksasa Vidyunmali mencuri kitab-kitab suci dan membungkam suara kebenaran, para dewa tak berdaya. Di saat itulah Dewi Saraswati hadir — bukan membawa senjata tajam, melainkan melantunkan mantra suci yang memancarkan cahaya dari setiap aksara suci. Cahaya itu menembus kegelapan, membangkitkan kesadaran, dan mengembalikan ilmu pengetahuan kepada dunia. Dalam kisah lain, disebutkan bahwa Rsi Wyasa sebelum menyusun Mahabharata terlebih dahulu memohon petunjuk kepada Hyang Saraswati, karena diyakini bahwa tulisan yang lahir tanpa pencerahan-Nya tidak akan membawa kebijaksanaan .
 
Di Bali, Dewi Saraswati dikenal dengan sebutan Sanghyang Aji Saraswati atau Hyangyangning Pangaweruh, yang berarti penguasa segala ilmu pengetahuan. Beliau diyakini bersemayam dalam setiap huruf, aksara, dan tulisan. Itulah sebabnya lontar-lontar dan naskah kuno diperlakukan dengan penuh penghormatan — bukan sekadar benda mati, melainkan tempat bersemayamnya cahaya ilmu. Setiap enam bulan sekali , umat Hindu merayakan Hari Raya Saraswati sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada-Nya, dengan memuja kitab, buku, dan lontar sebagai perwujudan kehadiran Dewi Saraswati di tengah kita.
 
Makna terdalam dari kisah Dewi Saraswati adalah bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sekadar kecerdasan akal, melainkan cahaya yang harus dituntun oleh kesucian hati. Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat membutakan, namun ilmu yang dijunjung dengan kerendahan hati akan menjadi terang yang menuntun kita pulang ke asal sejati kita.
 
 

Kisah Dewi Durga Menurut Lontar Andabhuwana.

Kisah Dewi Durga Menurut Lontar Andabhuwana.
 
Dewi Durga dikenal dengan banyak nama yang memancarkan berbagai aspek kekuatan Tuhan— Dewi Candika yang penuh kemurkaan terhadap kejahatan, Dewi Kali atau Kalika yang menyeberangkan jiwa dari kegelapan, di Bali Beliau dikenal pula sebagai Dewi Kalimaya, Bhatari Ulun Setra, dan Sanghyang Bhairawi, yang semuanya adalah wujud dari satu Mahadevi yang agung, pelindung dharma dan penguasa kuburan suci. Kisah asal-usul beliau tertulis dengan rinci dalam Lontar Andabhuwana, sebuah naskah kuno yang menjadi salah satu rujukan utama dalam tradisi Hindu Bali.
 
Kisah berawal ketika Bhatara Siwa berpura-pura sakit keras, lalu meminta istrinya, Dewi Uma, untuk turun ke bumi mendapatkan susu sapi putih sebagai obat. Dalam perjalanannya, Dewi Uma bertemu dengan seorang penggembala sapi yang meminta imbalan kehormatan sebagai syarat pemberian susu tersebut. Demi kesetiaannya kepada suami, Dewi Uma rela melakukannya. Ketika kembali ke kahyangan dan menyerahkan susu itu, beliau berbohong tentang bagaimana susu itu diperoleh. Namun Dewa Ganesha dengan tenung Aji Saraswati berhasil mengungkap kebenaran. Karena merasa dibohongi, Dewi Uma membakar tenung tersebut hingga menjadi abu. Melihat hal itu, Bhatara Siwa murka dan mengutuk Dewi Uma menjadi sosok yang menyeramkan, lalu menurunkan beliau ke bumi untuk menetap di Setra Gandamayu selama dua belas tahun, hingga ada yang suci mampu meruwat kutukan tersebut.
 
Dua belas tahun berlalu, dan akhirnya datanglah putra bungsu Kunti, Sahadewa, yang diserahkan ibunya ke Gandamayu untuk menjadi tumbal. Namun di sana terjadilah pertemuan yang suci — Sahadewa justru menyucikan dan meruwat Dewi Durga dari kutukannya, sehingga beliau kembali ke wujud aslinya sebagai Dewi Uma yang bercahaya. Kisah ini kemudian dikenal pula dengan nama Sudamala, yang mengajarkan bahwa kesucian hati lebih kuat daripada segala kutukan.
 

Pertarungan Dewi Durga Melawan Mahisasura.

Pertarungan Dewi Durga Melawan Mahisasura. 
 
Dewi Durga adalah salah satu manifestasi dari kekuatan agung Ida Sang Hyang Widhi Wasa, khususnya dinyatakan sebagai wujud kekuatan perempuan yang menegakkan kebenaran dan melindungi alam semesta dari kejahatan. Nama "Durga" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "yang menyelamatkan dari kesulitan" atau "yang menyeberangkan dari keterbatasan". Beliau digambarkan sebagai sosok yang cantik namun gagah perkasa, menunggangi singa yang melambangkan keberanian dan kekuatan, dengan sepuluh tangan yang masing-masing memegang senjata para dewa. Kisah terpenting tentang Dewi Durga tertulis dalam Markandeya Purana, khususnya pada bagian yang dikenal sebagai Devi Mahatmya, di mana kemenangan Beliau atas raksasa Mahishasura diceritakan dengan sangat rinci dan penuh makna spiritual.
 
Kisahnya bermula ketika para dewa di alam surga merasa gelisah karena kejahatan semakin menguasai dunia. Raja para raksasa, Mahishasura, telah mendapatkan anugerah yang membuatnya hampir tak terkalahkan, dan dengan kekuatan itu ia menindas makhluk hidup serta mengusir para dewa dari kediaman mereka. Karena tidak ada satu pun dewa laki-laki yang mampu mengalahkannya, maka kekuatan dari seluruh dewa bersatu menjadi satu cahaya yang luar biasa terang, yang kemudian menjelma menjadi sosok Dewi Durga. Para dewa masing-masing mempersembahkan senjata terbaik mereka kepada Beliau: Trisula dari Dewa Siwa, Cakra dari Dewa Wisnu, Busur dari Dewa Baruna, dan senjata-senjata lainnya, yang semuanya diterima oleh Dewi Durga dengan penuh kebijaksanaan dan kesetiaan kepada kebenaran.
 
Pertempuran sengit antara Dewi Durga dan Mahishasura berlangsung selama sembilan malam dan sepuluh hari, yang kemudian diperingati sebagai festival Dussehra atau Navaratri. Dalam kisah ini, Mahishasura melambangkan sifat-sifat buruk yang ada di dalam diri manusia — kebingungan, keserakahan, keangkuhan, dan kekuasaan yang disalahgunakan — sedangkan Dewi Durga adalah kekuatan kebenaran, keteguhan hati, dan kesadaran murni yang mampu menaklukkan semua kejahatan itu, bukan dengan kebencian, melainkan dengan keteguhan pada dharma. Seperti yang tertulis dalam Devi Mahatmya bab 1, ayat 7: "Yang melindungi orang-orang dari bahaya, yang berbentuk sebagai alam semesta, yang mengetahui segala sesuatu, yang memberikan kebahagiaan dan kemakmuran — kepada Dewi Agung ini, Durga, kami bersujud senantiasa."
 
Selain dalam Devi Mahatmya, keagungan Dewi Durga juga disebutkan dalam Bhagavad Gita bab 10, ayat 34, di mana Sang Krishna berkata bahwa di antara yang mulia, Beliau adalah kekuatan yang menghancurkan kejahatan. Dalam ajaran Hindu Bali, Dewi Durga juga dikenal sebagai Dewi Maheswari yang senantiasa dipuja untuk memohon perlindungan dari segala bahaya dan pengaruh buruk. Makna terdalam dari kisah ini bukanlah sekadar cerita pertempuran, melainkan pengingat bahwa setiap manusia memiliki kekuatan batin yang sama dengan kekuatan Dewi Durga — yaitu kemampuan untuk melawan sifat buruk di dalam dirinya sendiri, menjaga kebenaran, dan melindungi sesama yang lemah. Semoga kisah ini senantiasa menguatkan hati kita dalam menjalani kehidupan dengan penuh keberanian dan kebijaksanaan.
 

Buku Pujastawa Pemangku.

Judul buku:  Pujastawa 
                      Pemangku
(Tuntunan Mantra Suci Untuk Pemangku) 
Penyusun: Made Budilana. 

Kata Pengantar
------------------------
Segala puji bagi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, Sumber segala cahaya, kehidupan, dan kebijaksanaan. Atas rahmat-Nya, buku sederhana ini dapat tersusun dan hadir di tangan Anda.
 
Buku yang berjudul Pujastawa Pemangku (Tuntunan Mantra Suci — untuk Pemangku ini disusun sebagai penuntun sederhana bagi siapa pun yang ingin melangkah lebih dekat kepada Yang Suci melalui lantunan doa dan persembahan sehari-hari. Tidak ditulis untuk menggantikan kitab suci atau ajaran leluhur, melainkan untuk menjembatani agar makna di balik setiap kata yang dilantunkan dapat dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
 
Pemujaan bukan sekadar mengulang kata-kata yang indah. Ia adalah penyatuan hati, pikiran, dan perbuatan. Piodalan di pura maupun persembahan sederhana di rumah adalah perwujudan rasa syukur, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa segala yang kita miliki — napas, kekuatan, dan kebahagiaan — adalah titipan-Nya. Semoga setiap mantra yang terlantun bukan sekadar bunyi di bibir, melainkan menjadi doa yang menyentuh kedalaman jiwa, membawa ketenangan bagi diri sendiri, dan keberkahan bagi seluruh alam.
 
Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih jauh dari kesempurnaan. Kekurangan yang ada menjadi tanggung jawab kami, dan segala kebaikan yang terbit semata-mata adalah anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Saran dan masukan dari para semeton, para pendeta, pemangku, dan seluruh umat sangat kami harapkan agar karya kecil ini dapat menjadi lebih baik ke depannya.
 
Akhir kata, semoga buku ini menjadi pelita yang menuntun langkah kita senantiasa berjalan di jalan Dharma. Semoga damai, sejahtera, dan kebahagiaan senantiasa melimpah kepada kita semua.
Om Shanti Shanti Shanti Om
 
Bab 1 Puja Stava: Persembahan Hati yang Satu
 
Umat Hindu di Indonesia lebih  mengenal istilah "Puja Stava" dibandingkan  mengucapkan kata "Stotra". Mungkin secara makna, keduanya memiliki arti yang hampir sama, namun umat Hindu di Nusantara lebih akrab menyebutkan "Puja Stava" dibandingkan menyebutkan "Stotra" secara keseluruhan.
 
Pada hakikatnya, Puja Stava adalah sebuah pemujaan, penghormatan, sekaligus pujian. Kata "puja" berarti melakukan penghormatan atau persembahan, sedangkan "Ngastawa" berarti memuji, memuja, mengagungkan, dan memuliakan Yang Maha Suci. Segala yang dipuja, dihormati, dan ditinggikan adalah wujud penghormatan kepada sosok yang suci, agung, dan maha segala-galanya.

Di balik beragam nama dan bentuk persembahan, terdapat satu kebenaran hakiki yang tunggal. Kebenaran sejati itu utuh, tak terbagi, dan tak terbatas. Adapun banyaknya Dewata, roh leluhur, atau arah pemujaan yang berbeda-beda, itu semua hanyalah jalan yang beragam menuju satu tujuan yang sama. Setiap orang melaksanakan puja dengan tujuannya masing-masing, namun hakikatnya tetap sama: mengungkapkan bhakti, rasa syukur, dan kerendahan hati kepada Yang Satu. Bukan karena pamrih atau mengharap imbalan kelak, melainkan murni karena kasih dan pengakuan akan kebesaran-Nya.
 
Berbagai pandangan dan cara pelaksanaan yang tumbuh di setiap tempat adalah wujud kekayaan yang melebur menjadi satu. Tiada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya adalah ungkapan kasih yang berjalan di jalurnya masing-masing. Seperti sungai yang berkelok namun tetap mengalir menuju samudra, begitu pula setiap bentuk bakti mengarah kepada Sumber yang sama.
 
Dalam melaksanakan Puja Stava, ada sikap batin yang perlu dihayati agar persembahan menjadi utuh dan bermakna. Pertama adalah Padmasana, sikap duduk yang tenang, menenangkan pikiran, dan menyadari kehadiran-Nya di dalam diri. Kedua Sikhasana, kesadaran bahwa segala sesuatu bersumber dari-Nya dan kembali kepada-Nya. Ketiga Sukhasana, ketenangan hati yang menerima segala keadaan dengan lapang dada. Keempat Wajrasana, keteguhan hati yang tak tergoyahkan dalam kebenaran. Kelima Padasana, kerendahan hati yang menyadari segala kelebihan dan kekurangan, lalu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Pemelihara.
Kelima sikap ini menjadi landasan batin agar persembahan yang dilakukan bukan sekadar gerakan fisik, melainkan buah dari kesadaran yang tumbuh di dalam hati. Bukan berarti ada cara yang lebih benar atau lebih salah, melainkan cara yang paling tuluslah yang paling diterima. Setiap orang berjalan dengan caranya sendiri, namun arahnya sama: menuju kedekatan dengan Yang Suci.

Pada akhirnya, Puja Stava bukan sekadar doa atau ucapan pujian. Ia adalah kehidupan yang dijalani dengan kesadaran bahwa segala yang ada di alam semesta ini bersumber dari satu.
Sumber yang sama. Ketika kita memuji, kita mengakui kebesaran-Nya; ketika kita bersyukur, kita merasakan kasih-Nya; dan ketika kita melayani sesama, itulah wujud Puja Stava yang paling nyata — karena melayani ciptaan berarti menghormati Penciptanya. Semoga segala bentuk persembahan yang kita lakukan membawa kita semakin dekat kepada kebenaran yang satu, damai, dan abadi.

Bab 2 Langkah Menuju Kesucian Hati
------------------------------------------------------------
Penyucian diri adalah pintu gerbang sebelum mempersembahkan bakti kepada Yang Suci. Sebelum memulai segala pemujaan, piodalan, maupun persembahan harian, hendaklah kita membersihkan diri — bukan hanya tubuh, melainkan juga pikiran, perkataan, dan hati. Penyucian ini bukan sekadar membasuh debu dari tubuh, melainkan membuang segala kekotoran batin: kemarahan, iri hati, keserakahan, dan keangkuhan yang menghalangi kedekatan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Terdapat langkah-langkah yang dilalui dalam penyucian diri, dimulai dari membersihkan tempat, menyusun niat, hingga memantapkan hati. Pertama adalah Membersihkan Tangan , menata tempat agar rapi, bersih, dan tenang — mencerminkan ketertiban alam semesta. Selanjutnya Pranayama, mengatur napas dan menenangkan pikiran agar tidak terganggu oleh kegelisahan. Kemudian Memuja Gangga, memohon air suci yang  melambangkan penghapusan segala noda dan kesalahan yang pernah diperbuat. Setiap gerakan dan doa yang dilantunkan mengandung makna bahwa kebersihan lahiriah harus diiringi kebersihan batin, agar persembahan yang dipersembahkan menjadi harum dan diterima.
Air yang digunakan memegang peranan sangat penting. Mantra untuk menyucikan bunga, biji, dan persembahan mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dipersembahkan hendaklah bersih, tulus, dan tanpa noda. Ada mantra untuk memohon air suci Gangga, memohon agar air itu menjadi sarana penyucian, menghapus dosa, dan membawa kesucian ke dalam diri. Mantra-mantra itu bukan sekadar bunyi kata, melainkan pengakuan bahwa kesucian sejati datang dari Sumber segala kesucian. Air yang mengalir dari hulu ke hilir, dari yang murni ke yang menyejukkan, menjadi gambaran kasih Tuhan yang tak pernah putus mengalir kepada makhluk-Nya.
Terdapat berbagai jenis tirta atau air suci yang masing-masing memiliki fungsi dan makna tersendiri. Ada Tirta Pembersihan, yang berfungsi membersihkan diri dari kekotoran lahir dan batin. Ada Tirta Pengelukatan, yang dipakai untuk memohon perlindungan dan keselamatan. 

Ada Tirta Wewangsuh, yang berfungsi menguatkan dan menyejukkan hati. Ada pula Tirta Panembak yang menyembuhkan, serta Tirta Pangentas yang membawa keberkahan dan kemuliaan. Semua jenis tirta ini pada hakikatnya adalah satu — sarana rahmat yang mengalir dari Yang Maha Suci, menyesuaikan kebutuhan dan ketulusan hati yang menerimanya.
 
Dalam kitab suci disebutkan bahwa segala yang ada di alam semesta ini bersumber dari satu Asal. Segala bentuk pemujaan, doa, dan persembahan yang tulus, meskipun jalannya berbeda-beda, semuanya mengarah kepada Tuhan yang sama. Seperti sungai yang berkelok namun tetap mengalir ke samudra, begitu pula setiap jalan bakti yang diambil umat akan sampai kepada Tujuan yang satu. Tuhan tidak dibatasi oleh nama, tempat, atau cara penyembahan. Yang terpenting adalah hati yang tulus, niat yang luhur, dan perbuatan yang baik.
 
Tuhan hadir di mana-mana — di gunung yang tinggi, di sungai yang mengalir, di jantung setiap makhluk yang mencari-Nya. Tidak ada tempat yang terpisah dari kehadiran-Nya. Ketika kita bersyukur, Dia menyertai; ketika kita memohon, Dia mendengar; ketika kita berbuat baik, Dia memberkati. Tuhan itu dekat, lebih dekat daripada urat nadi, namun hanya dapat dirasakan oleh hati yang bersih dan tulus.
Maka marilah kita menjaga kesucian diri, bukan hanya saat hendak bersembahyang , melainkan dalam setiap langkah kehidupan. Biarlah setiap kata yang terucap, setiap perbuatan yang dilakukan, menjadi persembahan yang suci dan menyenangkan hati-Nya. Semoga segala upacara, doa, dan bakti yang kita persembahkan menjadi jalan yang menuntun kita semakin dekat kepada-Nya, Sang Sumber Segala Kesucian. Semoga damai, sejahtera, dan kebahagiaan senantiasa melimpah kepada kita semua.

Ketika duduk bersila
Ucapkanlah mantra sebagai berikut:
Om Padmasana ya namah swaha
Om Prasaddha stiti sarira siwa suci nirmala ya namah,
 Membersihkan tangan
Om Sudha mam swaha
Om Ati Sudhamam Swaha
Pranayama
Om Ang Brahma dipa ya namah
Om Ung Wishnu ya namah swaha
Om Mang Iswara amrta ya namah swaha
 
Mantra Untuk Genta
Om Kara sadasiwa stham
Jagat natha hitang karah
Abhiwada wadanyam
Ghanta sabda prakasyate
 Om ghaantaa sabda mahasretah
Om kara parikiritah
Candra nada bhandu drestam
Spulingga siwa siwa twam ca
 Om ghantayur pujyate dewah
Abhawa bawa karmesu
Warada labda sandenam
Waara siddhi nih samsayam
Setelah itu barulah membunyikan Genta:
Om om om (genta di bunyikan sekali)
Om ang ung mang (genta dibunyikan lagi)
Om ang kang khasolkhaya iswara ya namah swaha
(genta di bunyikan sekali lagi)
 Setelah itu, maka lanjutkan kembali dengan menggunakan mantra kehadapan dewata, agar segala kesalahan dan kekhilafan kita dapat dimaafkan.
Om ksama swamam mahawadwa
Sarwa prani hitangkara
Mamoca sarwa papebhya

Paalaya swa sadasiwa
Om paapoham paapo karmaham
Papa atma paapashambhawah
Traahimam pundari kaaksah
Saabhaahya bhyantara suci
Om kswantawya kaayiko dosah
Kswantawya waaciko mama
Kswantawya maanso dosah
Tat pramaadaat ksama swamaam
 Setelah menghaturkan pengaksamaan kehadapan Dewata, apapun yang kita lakukan dalam melakukan puja, semoga diterima dan mendapatkan restu dari Ida Bhatara semuanya.
 Mantra untuk bunga, biji dan juga dupa:
Om puspadanta ya namah swaha (untuk mantra bunga)
Om kung kumara wija ya namah swaha (untuk biji-bijian)
Om ang dupa dipastra ya namah (Dupa)
 
Mantra untuk mengangset pasapan:
Om urubira dewa bhatara dadi dewa mahadewa
Arengire dadi dewa wisnu
Meleketik lelatunira dadi dewa rudra
Kukuse dadi dewa iswara,
Lelatu sang hyang sankara,  kembangnia, awu sanghyang sambu
Melepunge sang hyang mahaswara, ambuning
Asep mulih ring dewa bharuna
Angadeg sira amener ring madya

Matemahan sanghyang taya
Ayoga sira ring akasa merbuk arum
Suganda sira,  terus saking sapta patala
Payuksmaning ganda arum sira
Matemahan sira sanghyang widyadara widyadari
Samankana dadin
Dewa brahma sangkep pada dewa ring angkasa
Ring telengin awun awun
Hana meru tumpang sawelas,  ring kana linggih sira padha dewa bhatara
Apupul amastuna siddhi rahayuning jagat
Om sa ba ta a i nam ma si wa ya om
Mantra di atas dapat diucapkan inilah yang dimaksud dengan Puja Kuta Mantra. Namun ada juga beberapa pandita dan pinandita yang menggunakan mantra sebagai berikut. Adapun mantra tersebut adalah sebagai berikut:
 Om gangga muncar saking purwa
Tininggalana telaga noja
Jambangan nira salaka
Tinanceban tunjung petak
Padyusan nira bhatara iswara
Pangilanganing papa
Kleksa moksa hilang
Om sang ya namah
 Om gangga muncar saking daksina
Tininggalana telaga noja
Jambangan nira tembaga 

Tinencaban tunjung bang
Padhyusan nira bhatara brahma
Pangilanganing sarwa wigna moksa hilang
Om bang ya namah
 Om gangga muncar saking uttara
Tininggalana telaga noja
Jambangan nira wesi
Tinanceban tunjung ireng
Padhyusan nira bhatara Wishnu
Pangilanganing sarwa satru
Moksa hilang
Om ang ya namah.
 
Setelah selesai mengucapkan mantra tersebut, maka dilanjutkan kembali dengan mengucapkan mantra sebagai berikut:
 Om atma tatwatma suddha mam swaha
Om om ksama sampurna ya namah swaha
Om sri pasupataye hung phat ya namah swaha.
 Dalam beberapa hal, mantra itu berperan juga untuk memohon tirta pembersihan. Dalam agama Hindu Bali ada banyak macam tirta jenismya memiliki kualifikasi yang berbeda sesuai dengan tingkat kebutuhannya.
 Karena tirta memiliki beberapa keistimewaan, karena itu sebelum meminum air tirta yang sudah dimohonkan, maka ucapkan mantra sebagai berikut:
 Om prathama suddha dwitiya suddha
Tritiya suddha suddha sudha wari astu
 "Ya Tuhanku, air suci ini semoga membersihkan dan juga menyucikan yang pertama, 

kemudian yang kedua suci, dan ketiga juga suci. Hingga seterusnya menjadi suci dengan air ini".
 Setelah memohon anugerah yang dilimpahkan, maka melipatgandakan mantra ini:
Om ayur vrddhi yaso vrddhi
Vrddhi parjna sukha sriyam
Dharma Santana vrddhi syat
Santute sapta vrddhayah
Om yavan merau sthito devah
Yavad gangga mahitale
Candrarkau gangge yavat
Tavad vijayi bhavet
 Om dirghayur astu tatastu
Awighnamastu astu tatastu
Om subham astu tatastu
Om sukhama bhavantu
Om purnam bhavantu
Om sreyo bhavantu
Sapta widhhi astu
 "Ya Tuhan maha perkasa. Semoga kami bertambah usia, bertambah dalam kemakmuran, kegembiraan dan juga kebahagiaan. Bertambah dalam kebijaksanaan, keturunan dan juga kebahagiaan. Bertambah dalam dharma dan keturunan tujuh pertambahan menjadi bagian-Mu.
 Ya Tuhan yang bersemayam di gunung MAHA meru yang maha tinggi. Selama sungai suci Gangga berada di daratan bumi, selama matahari dan juga bulan berada di langit, selama itu juga seseorang mendapatkan kejayaan.
 Ya Tuhan semoga panjang umur.

Ya Tuhan semoga tiada halangan rintangan
Ya Tuhan semoga senantiasa baik.
Ya Tuhan semoga bahagia
Ya Tuhan semoga sempurna
Ya Tuhan semoga rahayu.
Semoga tujuh pertambahan terwujud.

Bab 3 Puja Mantra Upacara
--------------------------------------------
Mantra untuk melukat banten, seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya bahwa air yang dimohonkan dengan Puja gangga tadi digunakan. Dan untuk melukat banten, maka diperlukan mantra sebagai berikut:
 Om pakulun hyang hyang ning prana prani
Hyang hyang ning sarwa tumuwuh
Pakulun manusa nira handa sih waranugrahan nira
Nanda tirtha panglukatan
Ledang paduka bhatara anglukat
Angelebur dasa malaning babanten kabeh
Yan hana kalangkahang dening sona
Kaiberan dening ayam
Kacekel dening wong camah
Kaporod dening wek
Ya ta kaprayascita denira sang hyang suci nirmala

Makadi sang hyang lewihing babanten
Wastu siddha paripurna
Om siddhi rastu ya namah swaha
 Air yang terdapat di sangku kemudian dituangkan ke dalam tempat bayakan, lalu mantra-nya adalah:
 Om antiganing sawung pangawak
Sang hyang galacandu sagilingan
Panglanganing mala papa pataka
Om bang bamadewa
Om dewa bayu angiberakena lara roga wigna
Om sah wausat ya namah swaha
Om sang bhuta nampik mala
Sang bhuta nampik lara
Sang bhuta nampik rogha
Umbirakena sakwehing lara roga wogna
Om ksama sampurna ya namah
 Untuk mantra prayascitta adalah sebagai berikut:
 Om siddhi guru srong sarasat
Sarwa rogha wigna winasa ya
Sarwa satru winasa ya
Sarwa klesa winasa ya namah
Om om paramasiwa amrta ya namah
 Mantra untuk tirtha Durmanggala adalah sebagai berikut:
 Om mrtyu ca rakta mara ya
Sarwa rogha upadrawa papa mrtyu sangkara

Sarwa kala kalika syah wigraha ngawipada
Susupma durmanggala papa krodha winasaya
Sarwa wighna wighna winasa ya namah
 
Mantra untuk pangulapan sebagai berikut:
 Om pakulun Sang Hyang Sapta pratala
Sang hyang sapta dewata
Sang hyang wesrawana
Sang hyang tri nadi
Pancakosika
 Mantra untuk manghaturkan Rayuman Perangkatan sebagai berikut:
 Om bhuktiyantu sarwato dewa
Bhuktiantu sri lokanatha
Sagnanah sapari warah
Swarga sada siddhasa
Om dewa bhoktra laksanaya namah swaha
Om dewa trepti laksanaya namah swaha
 Mantra Untuk banten Pras sebagai berikut:
 Om kara muktayet
Sarwa pras prasiddha suddha ya namah swaha
Ang ang mang
Om sada peras suddha yojnanam
Sari miket sattwe ya nityam ang ah.
 
Mantra untuk matur piuning pangaksama kehadapan Bhatara-Bhatari seluruhnya, agar segala macam kesalahan dapat di maafkan :
 Om ksama swamam mahadewa
Sarwa prani hitangkarah
Mammoca sarwa papebhyah
Palayaswa sadasiwa
papa ham papa karmaham
Papatma papa sambhawah
Trahimam sarwa papebhyah
Kenancin mama raksatu
Ksantayo kayika dosa
Ksantayo wacika mama
Ksantayo manasa dosa
Tat pramadat ksama swamam
 Hinaksaram hinapadham
Hina mantram
Tathaiva ca, hina bhaktim hina wrdhim
Sada shiwa namo stute
Mantrahinam karyahinam
Bhaktihinam maheswara
Yat pujitam maya dewa
Paripurna tadastume
 
Ada banyak ragam dan ada banyak sekali cara serta tuntunan untuk melakukan puja dalam ritual Hindu di Bali. Ada banyak sastra, lontar dan juga kitab panduan yang berbicara yang sama dengan urutan yang berbeda. Dengan demikian, maka ini sangat tergantung dari jero mangku 

dan wawasan beliau dalam melakukan puja.
 Ada yang singkat namun ada juga yang sangat panjang. Dalam agama Hindu di Bali, runtutan seperti itu tidak dapat di patok dengan sangat baku dan sama persis dengan yang lain. Setiap daerah memiliki kearifan masing-masing yang memiliki banten serta tatacara melakukan puja yang berbeda. Jadi demikian diharapkan tidak ada saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.

Bab 4 Puja Mantra untuk Kahyangan
----------------------------------------------------------
Mantra untuk di Pura Bale Agung, di mana yang berstana di sana adalah Bhatara Brahma sebagai guru dan juga pandita seluruh Desa. Maka menggunakan mantra sebagai berikut:
 Om isano sarwa widyanam
Iswara sarwa bhutanam
Brahmano dipati Brahman
Siwastu sada siwaya
Om siwa dipataya namah swaha
 "Ya Tuhan yang maha tunggal. Maha besar yang maha kuasa, menguasai semua makhluk, selaku Bhatara Brahma, raja dan pemimpin segala macam brahmana selaku Siwa dan juga Sadasiva."
Untuk di Pura Puseh, yang nota bene adalah kahyangan untuk Ida Bhatara Wishnu sebagai pemelihara, maka menggunakan mantra sebagai berikut:
 Om Giripati mahaviryam
Mahadewa pratistha lingam
Sarwa dewa pranayanam
Sarwa jagat prathistanam
Om giripati dipata ya namah swaha
Mantra untuk Memuja Bhatara Sagara sebagai berikut:
 Om nagendra krura murtinam

Gajendra mitsya waktram
Baruna dewa masariram
Sarwa Jagat suddhatmakam
 "Ya Tuhan sebagai raja para naga yang maha hebat. Raja gajah mina yang maha luar biasa. Berwujud agung dalam bentuk dewa Baruna. Penyuci segala macam jiwa raga, hamba memuja-Mu".
 Mantra untuk memuja di pura Ulun Danu, Ulun Siwi, dan penghulu carik, sebagai berikut:
 Om sri dewi kebhavyam
Sarwa rupa watitasya
Sarwa jnaka mitidatyam
Sri sri dewi namastute
 "Ya Tuhan, saktimu selaku Maha Dewi Sri. Yang maha dermawan lagi maha mulia. Yang menganugerahkan kemakmuran, bagi semua makhluk. Yang senantiasa menyucikan hati makhluknya".
 
Mantra untuk Hari Saraswati atau Dewi Ilmu Pengetahuan:
 Om brahma putrid mahadewi
Brahmanya brahma wadhini
Saraswati ya jnam
Prajnana ya saraswati
 "Ya Tuhan, sakti Dewa Brahma yang sangat cantik. Yang disebut maha agung, Tuhan menjadi murni dalam jiwa, yang bergelar Saraswati yang indah, mengatur batin setiap makhluk, disebut Saraswati".
 Dapat juga menggunakan mantra sebagai berikut:
 Om saraswati namastubhayam
Waradi kama rupini

Siddhi asthma karoksami
Siddhir bhawantume sadham
 "Ya Tuhan, yang dipuja dengan nama suci Saraswati Dewi, yang berwajah cantik indah berkuasa. Menganugerahkan kami semuanya, senantiasa berkuasa kepada dunia".
 Dapat juga menggunakan mantra sebagai berikut ini:
 Om sang saraswati sweta ya I namah swaha
Om bang saraswati rakta warna ya I namah swaha
Om tang saraswati pita warna ya I namah swaha
Om ang saraswati krsna warna ya I namah swaha
Om om ing saraswati wicwa warna ya I namah swaha
 "Ya Tuhan, demikian pujian ini kehadapan Saraswati, yang berwarna putih, merah, kuning dan hitam, dan juga Dewi Saraswati yang memiliki banyak warna, hamba memuja-Mu"
Dengan demikian, maka puja ini dapat dilakukan secara perseorangan dan juga dapat dilakukan dengan berkelompok atau bersama-sama. Jadi yang terpenting adalah pemusatan pikiran saat mengucapkan mantra agar tertuju dengan baik kepada Ista Dewata yang menjadi puja saat itu. Sembahyang jangan dilakukan hanya sebatas sebuah formalitas belaka. Namun melakukan puja merupakan sebuah refleksi diri kita sendiri agar apapun yang kita lakukan merupakan sujud bhakti kehadapan Bhatara dan Bhatari sebagai satu bentuk penyerahan diri.
 
Bab 5 Mantra Upasana
 Mantra ini adalah puja mantra yang dapat dilakukan sehari-hari dan juga merupakan satu hal yang menyatukan kita senantiasa berjalan dalam wilayah kebenaran. Mantra bangun pagi adalah sebagai berikut:
 Om utedanim bhagavantah syamota
prapitva uta madhye ahnam
Utodita maghavanta suuryasya vayam
Devaanam sumatau syama
 "Ya Tuhan yang Maha pemurah, jadikanlah kami selalu berbakti baik pada pagi hari, menjelang tengah hari, apalagi saat matahari berada di atas kepala kami. Semoga para dewata berkenan memberikan anugerah kepada kami"
(Reg Veda. VII. 4. 1. 4)
 Mantra saat kita mandi:
 Om idamaapah pra vahata
Yaktim ca duritam mayi
Yadvaham abhidudroha yadva
Sapa utaanrtam
 "Ya Tuhan, maha kuasa. Dosa apapun yang terdapat dalam diri kami, kejahatan apapun yang telah kami lakukan, demikian juga kebohongan apapun yang telah kami katakan, semoga dengan air ini yang diberkahi ini, menjauhkan kami dari segala macam kesalahan"
(Reg Veda. X. 9. 8)
 Mantra saat kita akan makan sebagai berikut:
 Om mogham annam vindate apracetah
Satyam bravami vadha itsa tasya
Naryamanam pustyati no sakhaayam
Kevalagho bhavati kevaladi
 "Orang yang tidak bijaksana tidak memanfaatkan makanan dengan baik; aku katakan terus terang, ia saja dengan orang yang mati. Tidak membagikan makanan pada rekan-rekan, dan orang yang makan sendiri, akan menanggung dosa sendiri pula"
(Reg Veda. X. 117. 6)
 Mantra ini juga dapat diucapkan sebagai berikut:
 Om sukham bhavantu sriyam bhavantu
Purnam bhavantu ksama sampurnaya namah swaha
 "Ya Tuhan sumber segala macam kebaikan, semoga kami memperoleh kesukaan, kebahagiaan, dan juga kesempurnaan. Ampunilah dan sempurnakanlah kami".
 Mantra untuk memperkuat diri pribadi dan memohon anugerah agar tidak takut kepada siapapun:
 Om abhayam mitrad

abhayam amitrad
abhayam jnaatad
ajnaatad abhayam puroyah
abhayam naktam abhayam divanah
sarva asaa mama mitram bhavantu
 "Ya Tuhan, semoga saya tidak takut kepada kawan dan juga lawan. Tidak takut malam dan juga siang hari. Semoga semua arah memberikan sahabat kepada kami"
(Reg Veda Samhita. IX. 15. 6)
 Mantra untuk memulai belajar atau mempelajari sesuatu:
 Om agne naya supatha raaye asman
Visvani deva vayunaani vidvan
Yuyodhyasmaj juhuranam eno
Bhuyisthamte namauktim vidhema
 "Ya Tuhan maha kuasa. Hyang Agni, tunjukkanlah kepada kami. Jalan yang benar untuk mencapai kesejahteraan, engkau Tuhan, yang mengetahui semua kewajiban. Lenyapkanlah dosa kami yang menyengsarakan kami. Kami memuja engkau"
(Reg Veda. I. 189. 1)
 
Mantra untuk memohon keselamatan bayi dan juga saat ibu yang tengah melahirkan:
 Om brhatsumana prasavitaa nivesano
Jagatah sthaturubhayasya yo vasi
Sa no devah savita sarma yacchaatvasme
Ksayaaya trivarutham amhasah
 "Ya Tuhan yang maha pengasih. Memberikan kehidupan pada alam raya. Ia yang mengatur baik yang bergerak dan yang tidak bergerak. Semoga Savitra memberikan rahmat kepada kami untuk ketentraman hidup dengan kemampuan untuk menghindari kekuatan jahat"

(Reg Veda. IV. 53. 6)
 Untuk memohon pembersihan diri sendiri:
 Om paavakaah nah Sarasvati
Vaajebhir vaajiniivatii
Yajnam vastu dhiyaavasu
 "Ya Tuhan, maha mulia dan perkasa. Hyang Sarasvati yang maha suci dan agung. Menganugerahi kami kecerdasan sebagai anugerah-Mu. Terimalah persembahan kami"
(Reg Veda Samhita. I.3. 10)
  Mantra untuk memohon panjang umur:
 Om taccaksura devahitam
Sukram uccarat
Pasyema saradah satam
Jiivema saradah satam
 "Ya Tuhan maha mulia dan perkasa. Semoga senantiasa tulus kami selalu melihat mata yang bersih, cemerlang, hidup. Semoga saya hidup seratus tahun yang akan datang"
(Reg Veda. VII. 66. 16)
 
Mantra untuk memohon kesehatan diri pribadi:
 Om vaataa vaatu bhesajam
Sambhu mayobhu no hrde
Pra na aayuumsi taarisat
 "Ya Tuhan maha mulia dan perkasa. Semoga Hyang Vayu, menghembuskan nafas-Nya yang sejuk kepada kami. Hyang Vayu memberikan kesehatan kepada kami. Semoga Hyang Vayu memberikan umur yang panjang"

(Reg Veda. X. 186. 1)
 Mantra untuk memohon keselamatan diri sendiri:
 Om trayambhakam yajaamahe
Sugandhim pusti vardhanam
Urvaarukam iva bandhanaat
Mrtyor muksiiva maamrtaat
"Kami memuja engkau wahai Hyang Rudra (Trayambhakam) yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak makanan. Semoga Beliau melepaskan kami, seperti buah mentimun dari batangnya, dari kematian dan bukan dari kekekalan".
(Reg Veda. VII. 59. 12)
 Mantra untuk membuka sebuah pertemuan agar dapat mencapai kata mufakat dan tidak terjadi pertengkaran:
 Om sam gacchadhvam sam vadadhvam
sam vo manamsi jaanataam
deva bhaagam yatha purve
sanjaanaanaa upaasate
 Samaano matrah samatih samaani
Samaanaam manah saha sitta eshaam
Samaanaam mantram abhi matraye vah
Samaanena vo havisa juhoni
Samaani va aakuti samaanaa hrdayaani vah
Samaanaam astu vo mano yathaa vah
Susahaaasati
 "Ya Tuhan maha kuasa. Semoga pertemuan dan rapat ini mencapai satu kesepakatan seperti halnya para Dewata bersama-sama menikmati persembahan.
Semoga tercapai tujuan kami, kesepakatan bersama satu pikiran menuju satu tujuan.
 
Ya Tuhan maha kuasa. Engkau canangkan satu tujuan. Bersama kami sekalian, marilah adakan pemujaan dengan persembahan bersama, agar tujuan kita satu dan seia sekata bersama"
(Reg Veda. X. 1919. 2-3-4)
 Mantra untuk memohon kedamaian dan juga ketenangan:
 Om dyauh santir
Antariksam santih
Osadayah santih
Vanaspataya santir
Visve devah santir
Brahma santir
Sarvam santih santir eva santih
Sa ma santir edhi
"Ya Tuhan, maha kuasa. Anugerahkanlah kedamaian di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tumbuh-tumbuhan, damai pada pepohonan, damai bagi para dewa, damailah alam semesta. Semoga kedamaian senantiasa datang kepada kami. Di Tuhan anugerahilah itu".
(Tejur Veda. XXXVI. 17)
 Mantra untuk memohon bimbingan dan tuntunan rohani:
 Om asato maa sadgamaya
Tamaso maa jyotir gamaya
Mrtyor maa amrtam gamaya
 "Ya Tuhan, Bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran menuju jalan yang terang. Bimbinglah kami dari kematian menuju keabadian".
Mantra ini adalah mantra yang diambil dari kitab Ibrani Aranyaka Upanisad. Mantra ini adalah mantra yang paling populer yang diucapkan ketika seseorang hendak mencari ketenangan, belajar Veda ataupun tempat menuju untuk pendidikan secara spiritual. Pengucapan mantra ini sejak tradisi Hindu Nusantara tampaknya sudah mula dikenal.

Bab 6 Mantra Veda dalam Ista Dewata
-------------------------------------------------------------
 Dalam kitab mantra Veda, terdapat banyak mantra yang disusun untuk memuja dan memeluk Ista Dewata dalam berbagai wujud dan aspek. Tentu saja, para Dewata yang dimaksud mencakup golongan Asta Vasu, dua belas Aditya, sekaligus Maharudra, wujud-wujud yang menyatu dalam hakikat Yang Esa.
 Tad eva-agnis tad Adityas
Tad vaayus tad u candramah
Tad eva sukram tad brahma
Taa aapah sa orajapatih
 Ya Tuhan yang Maha Kuasa, Engkau dikenal dengan beraneka nama: Agni yang menyala, Aditya yang bersinar, Vayu yang berhembus, Candramas yang menyejuk, Sukra yang murni, Brahman yang maha menyeluruh, dan Prajapati yang menciptakan. Segala nama itu hanyalah jalan menuju Diri-Mu yang satu, yang meliputi dan mengisi segala yang ada di alam semesta ini. Demikianlah sabda dalam Yajur Veda, XXXII.1, mengingatkan kita bahwa di balik segala nama dan rupa, sesungguhnya hanya Engkau yang ada.
 Kepada Sang Hyang Vasu, yang senantiasa bersinar dan menopang kehidupan, kami memohon kebijaksanaan yang menuntun langkah kami:
 Hamsa sucisad
Vasur antariksad
Hota vidisad
Atithir duronasat
 Engkau bagaikan angsa yang terbang di ketinggian, murni dan terang; Engkau menetap di ruang angkasa, menyokong segala ciptaan; Engkau menjadi penunjuk jalan bagi yang mencari; Engkau hadir di tengah-tengah kami bagaikan tamu yang terhormat, beristirahat di rumah hati yang suci. Engkau berada di mana-mana, namun hanya yang bersih hatinya yang mampu menyadari kehadiran-Mu yang senantiasa menyertai.
 Kami memuja Bhatara Surya, cahaya yang tak pernah padam, agar kami senantiasa berjalan dalam terang keterangan dan mendapat ketenangan jiwa:
 Devam devatraa suryam

Aganma jyotir uttamam
 Semoga kami sampai kepada Tuhan yang Maha Kuasa, terang yang sejati, bagaikan matahari yang menyinari seluruh alam. Di dalam cahaya-Mu, kami melihat cahaya; di dalam kebenaran-Mu, kami menemukan jalan pulang. Demikianlah doa yang diwariskan dari Reg Veda, I.50.10, mengajarkan kami untuk menjadikan Tuhan sebagai cahaya penuntun, agar tidak tersesat di tengah kegelapan keraguan.
 Di samping itu, kami memohon kekuatan batin yang tak tergoyahkan, keteguhan hati yang tak mudah goyah, semangat yang senantiasa menyala untuk kebaikan:
 Agne tapas tapyaamahe
Upa tapyaamahe tapah
Srutaaani srnvanto vayam
Aayusmantah sumedhasah
 Ya Tuhan, bagai api yang murni, kami menempuh jalan pengendalian diri dan pemurnian jiwa. Kami melatih batin, memantapkan hati, agar menjadi manusia yang panjang umur dalam kebijaksanaan, kuat dalam semangat, dan cerdas dalam membedakan yang benar dan yang salah. Bukan sekadar umur yang panjang, melainkan umur yang bermakna, diisi dengan pengabdian dan pemahaman yang mendalam. Inilah permohonan yang tertulis dalam Atharva Veda, VII.61.2, mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kekuatan yang menindas, melainkan kekuatan untuk mengalahkan diri sendiri.
 Kami pun memohon kesucian hati, agar tempat tinggal-Mu di dalam dada kami senantiasa bersih dan layak:
 Yatra brahmavido yaanti
Diksaaya tapasaa saha
Brahmaa maa tatra nayatu
Brahmaa brahma dadhaatu me
 Semoga Tuhan yang Maha Kuasa menuntun kami ke tempat yang paling suci, tempat para pencari kebenaran pulang. Di sana, kami menemukan kebenaran yang abadi, yang tak dapat dicuri, tak dapat dibeli, dan tak dapat diwarisi selain dengan ketulusan hati. Semoga Engkau menanamkan pengetahuan sejati ke dalam batin kami, agar kami tidak hanya mengetahui, tetapi juga menghayati; tidak hanya mendengar, tetapi juga melaksanakan. Seperti yang tercantum dalam Atharva Veda, XIX.43.8, kesucian bukanlah pemberian semata, melainkan hasil perjuangan membersihkan diri dari segala kotoran hati—iri, dengki, sombong, dan tamak.

 Semua mantra ini mengajarkan satu kebenaran yang sama: bahwa Tuhan itu dekat, lebih dekat dari napas kami sendiri. Ia hadir sebagai cahaya matahari, sebagai panas api, sebagai hembusan angin, sebagai ketenangan rembulan, sebagai kasih sayang yang tak putus. Tak perlu mencari-Nya jauh ke angkasa atau jauh ke seberang lautan, karena Ia ada di sini, di dalam hati yang tenang, di dalam tindakan yang jujur, di dalam kasih yang tulus.
Berbagai nama, berbagai rupa, berbagai cara memuja—semuanya menuju ke Satu. Bagaikan sungai yang beraliran dari berbagai arah, akhirnya semuanya bermuara ke samudra yang sama. Demikianlah setiap doa yang tulus, setiap usaha untuk menjadi lebih baik, setiap pengorbanan yang ikhlas, semuanya akan sampai kepada-Nya, Sang Sumber Segala Kehidupan.
 Maka marilah kami memelihara kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, karena di sanalah pintu menuju kehadiran-Nya terbuka lebar. Bukan dengan harta yang melimpah, bukan dengan pujian yang indah, melainkan dengan hati yang rendah, tulus, dan penuh kasih, kami mendekat kepada-Mu.

Bab 7 Wirama Mantra
-----------------------------------
 Wirama atau irama dalam menyanyikan mantra sangatlah penting. Sebab dengan irama yang tepat, mantra akan semakin tepat bunyi dan maknanya pula. Kesalahan dalam pembacaan wirama tidak hanya mengurangi keindahan, tetapi bahkan dapat mengubah arti mantra secara keseluruhan. Itulah sebabnya diperlukan pemahaman yang benar tentang metrum dan wirama, agar mantra dapat dilantunkan dengan indah, tepat, dan bermakna seutuhnya.
 Metrum atau wirama dalam tradisi Veda pada dasarnya tersusun dari satuan suku kata yang teratur. Sebagian besar terdiri dari tiga baris, namun ada pula yang bertambah menjadi empat baris, dengan jumlah suku kata yang berbeda-beda pada setiap jenisnya. Setiap metrum memiliki ciri khas, panjang pendeknya bunyi, serta jumlah suku kata yang sudah ditetapkan sejak dahulu dengan sangat teliti.
 Berikut adalah metrum-metrum yang pendek, yang sering digunakan dalam berbagai mantra harian:
 1. Gayatri — terdiri dari 24 suku kata, yaitu 8 + 8 + 8 pada setiap barisnya
2. Usnih — 28 suku kata, tersusun 7 + 7 + 7 + 7
3. Anustubh — 32 suku kata, dengan hitungan 8 + 8 + 8 + 8
4. Brhati — 36 suku kata, berupa 9 + 9 + 9 + 9
Hal 25

5. Pankti — 40 suku kata, yaitu 8 + 8 + 8 + 8 + 8
6. Tristubh — 44 suku kata, disusun 11 + 11 + 11 + 11
7. Jagati — 48 suku kata, dengan susunan 12 + 12 + 12 + 12
 Selain metrum-metrum di atas, terdapat pula metrum yang lebih panjang, yang biasanya digunakan dalam mantra-mantra dengan makna yang lebih mendalam atau pada upacara-upacara khusus:
 1. Atijagati — 52 suku kata, tersusun 12 + 12 + 12 + 8 + 8
2. Sakvari — 56 suku kata, yaitu 8 + 8 + 8 + 8 + 8 + 8 + 8
3. Atisakvari — 60 suku kata, dengan hitungan 16 + 16 + 16 + 8 + 8
4. Asti — 64 suku kata, berupa 16 + 16 + 16 + 16
5. Atyasti — 68 suku kata, yaitu 12 + 12 + 12 + 12 + 8 + 8
6. Dhrti — 72 suku kata, tersusun 12 + 12 + 12 + 8 + 16 + 8
7. Atidhrti — 76 suku kata, dengan susunan 12 + 12 + 12 + 12 + 12 + 8 + 8
 Dengan mengetahui jumlah suku kata dan panjang pendeknya setiap baris dalam mantra, kita akan semakin mudah memahami struktur dan irama yang seharusnya digunakan. Kita dapat mengetahui kelompok metrum mana yang dipakai, sehingga pembacaan menjadi tepat, lancar, dan benar. Kemudian dengan irama yang benar, mantra akan terasa semakin indah, menyentuh hati, dan menggetarkan batin.
 Ini bukan sekadar aturan bunyi atau keindahan suara semata, melainkan sarana untuk memusatkan pikiran, menyatukan perasaan, dan menyucikan niat saat memuja Tuhan Yang Maha Esa. Ketika bunyi teratur, irama tenang, dan kata-kata diucapkan dengan benar, maka pikiran yang tadinya berantakan akan menjadi tertib, hati yang gelisah akan menjadi damai, dan kesadaran kita perlahan-lahan menyatu dengan keagungan-Nya. Setiap bunyi yang tepat adalah langkah mendekatkan diri kepada Sumber Segala Kehidupan, dan setiap irama yang selaras adalah cerminan keteraturan alam semesta yang kita bawa ke dalam diri sendiri.
 Maka hendaklah kita melantunkan mantra bukan sekadar mengulang kata, melainkan memahami, merasakan, dan menghayati setiap suku katanya. Sebab di balik bunyi yang teratur, tersimpan kekuatan yang menuntun jiwa menuju kejernihan, kebenaran, dan kedamaian yang abadi.

Bab 8 DAINIKA UPĀSANA MANTRA
----------------------------------------------------------
 Beberapa Mantra yang biasa dipergunakan untuk yajña yang bersifat kontinyu atau sehari-hari diantaranya:
 A. Yajña Setelah Memasak (Banten Saiban)
 1. Di Dapur
 a. Tempat Beras
 - Doa : Om Śrī Dewya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai penguasa Amertha, hamba bersujud pada-Mu.
 b. Kompor / Tungku
 - Doa : Om Sang Hyang Tri Agni Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Agni, sebagai penguasa penerang dalam kegelapan, sebagai sumber energi bagi kehidupan, hamba bersujud pada-Mu.
 c. Tempat Air
 - Doa : Om Gangga Dewya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Dewi Gangga, hamba bersujud pada-Mu.
 
d. Pelangkiran
 - Doa : Om Om Dewa Datta Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Purusa Predana, sebagai sumber dari kehidupan, hamba bersujud kepada-Mu.
 2. Di Sumur
 - Doa : Om Ung Wisnu Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Wisnu, penguasa air kehidupan, hamba bersujud.
 3. Lubang Saluran Air Limbah
 - Doa : Ih Sang Kala Sumungsang Ya Namah
Hal 27
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Kala Sumungsang hamba bersujud kepada-Mu.
 2. Di Merajan
 a. Kemulan
 - Doa : Om, Ang, Ung, Mang Paduka Guru Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tri Guru, hamba bersujud kepada-Mu.
 
b. Taksu
 - Doa : Om Dewa Dewi Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai rwa bhinéda, hamba bersujud kepada-Mu.
 c. Śri Sedana
 - Doa : Om Kuwera Dewa Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Sang Hyang Kuwera, sebagai penguasa kekayaan, hamba bersujud kepada-Mu.
 d. Tugu Capah
 - Segehan : Putih-kuning
- Doa : om Sang hyang durga Maya ya Namah
- Arti : Ya, Sang Kala Maya hamba menghaturkan persembahan, semoga engkau berkenan.
 e. Penglurah Telenging Segara
 - Segehan : Hitam-putih (Poleng)
- Doa : Ih, Bhūta Kala Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Bhūta Kala, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 f. Tugu Penyarikan
 - Segehan : Hitam-putih (Poleng)
- Doa : Ih, Bhūta Kala Boktya Namah

- Arti : Ya, Sang Bhūta Kala, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 g. Gedong Hyang
 - Segehan : Putih (3)
- Doa : Ih, Durga Bucari Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Durga Bucari, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 h. Gedong Harta
 - Segehan : Putih-kuning
- Doa : Ih, Bhūta Kala Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Bhūta Kala, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 i. Pelinggih Menjangan Saluwang
 - Segehan : Putih-kuning
- Doa : Ih, Bhūta Kala Boktya Namah
- Arti : Ya Tuhan, hamba menghaturkan persembahan kepada Sang Bhūta Kala, semoga berkenan.
 j. Gunung Agung (Gedong Agung)
 - Segehan : Putih-kuning
- Doa : Ih, Bhūta Kala Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Bhūta Kala, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 k. Gedong Sari
 - Segehan : Putih-kuning
- Doa : Ih, Bhūta Kala Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Bhūta Kala, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 5. Tugu Penunggun Karang
 - Segehan : Hitam-putih (Poleng)
- Doa : Ih, Sang Bhūta Preta Boktya Namah

- Arti : Ya, Sang Bhūta Preta, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 C. Pengastawa / Mantra Pada Pelinggih
 Pada waktu menghaturkan canang atau melaksanakan persembahyangan doa atau mantra yang dipergunakan untuk masing-masing pelinggih tentu berbeda-beda, sesuai dengan keyakinan pada manifestasi Tuhan yang distanakan pada pelinggih bersangkutan. Berikut akan diuraikan secara singkat mantra beserta artinya.
 1. Di Merajan
 a. Kemulan
 - Doa : Om Ang-ung-mang Paduka Guru Bhya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Wijaksara Ang-Ung-Mang atau Tiga Guru, hamba memuja-Mu.
 b. Taksu
 - Doa : Om Dewa-dewi Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Dewa-Dewi, hamba bersujud dihadapan-Mu.
 c. Śri Sedana / Gedong Harta
 - Doa : Om Śrī Lakṣmī Dewi Namo Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Dewi Śrī Lakṣmī, hamba bersujud dihadapan-Mu.
 d. Tugu Capah
 - Doa : Om Sang Hyang Durga Maya Ya Namah
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Durga Maya sebagai saktinya Śiwa, penguasa atau dari Bhūta Kala, hamba bersujud kepada-Mu.
 e. Penglurah Telenging Segara
 - Doa : Ih, Ah Ing Panglurah Telenging Segara Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Panglurah Telenging Segara, hamba memujamu.
 
f. Tugu Penyarikan
 - Doa : Ih, Ah Ing Panglurah Agung Ya Namah Swaha

- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Panglurah Agung, hamba memujamu.
 g. Gedong Hyang
 - Doa : Om Ung Prajapatya Namah / Om Mang Mataya Namah
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Prajapati, hamba bersujud dihadapan-Mu.
 h. Pelinggih Menjangan Saluwang
 - Doa : Om Ah Sukla Dewi Maha Lakṣmī Śrī Giri Pati Sukla Pawtirani Swaha
- Arti : Ya Tuhan dalam wujud Dewi Maha Lakṣmī Śrī Giri Pati, hamba menghaturkan sembah sujud kehadapan-Mu.
 i. Gunung Agung (Gedong Agung)
 - Doa : Om-om Giripati Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Giripati, hamba bersujud dihadapan-Mu.
 j. Gedong Sari
 - Doa : Om Śrī Lakṣmī Dewi Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Dewi Śrī Lakṣmī, hamba bersujud dihadapan-Mu.
 
k. Meru Tumpang Tiga (Linggih Bhaṭṭāra Kawitan / Ratu Pasek)
 - Doa : Om Ang Agnijaya Ya Namah, Om Ang Agnijaya Jagatnātha Ya Namah
 6. Pengijeng
 - Segehan : Brumbun
- Doa : Ih, Sang Kala Bucari Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Kala Bucari, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 7. Tugu Pengadang-adang
 - Segehan : Brumbun
- Doa : Ih, Sang Kala Ngadang Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Kala Ngadang, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.

 8. Tempat Ari-ari
 - Segehan : Kepelan (4 Kepelan)
- Doa : Ih, Anta, Preta, Bhūta, Kala Dengen Boktya Namah
- Arti : Ya, Anta, Preta, Bhūta, Kala Dengen hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 
9. Pintu Muncak
 - Segehan : Brumbun
- Doa : Ih, Sang Kala Ngadang Boktya Namah
- Arti : Ya, Sang Kala Ngadang, hamba menghaturkan persembahan, semoga berkenan.
 5. Tugu Penunggun Karang
 - Doa : Om Sang Hyang Cili Manikmaya Sang Sedahan Pekarangan Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai penguasa pekarangan hamba bersujud kepada-Mu.
 6. Pengijeng
 - Doa : Om Sang Hyang Indra Blaka Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai penguasa alam, hamba memujamu.
 7. Tugu Pengadang-adang
 - Doa : Om Sang Maha Kala, Nandi Kala Boktya Namah
- Arti : Ya Maha Kala, Nandi Kala sebagai penjaga pintu masuk, hamba memuja-Mu.
 e. Penglurah
 - Doa : Om Anglurah Agung Bhagawan Penyarikan Ya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai pengantar bagi Sang Anembah dengan Kasembah, hamba bersujud kepada-Mu.

Bab 9 NAIMITIKA UPĀSANA MANTRA
------------------------------------------------------------
Di tengah kehidupan masyarakat Hindu yang berakar kuat, terdapat kekayaan pelaksanaan berdoa  yang tidak hanya berpusat di pura atau dipimpin oleh para pemangku dan pendeta semata, melainkan juga tumbuh dan mewujud di lingkungan yang paling dekat dengan hati, yaitu di dalam lingkungan keluarga sendiri. Ada banyak yajña, atau pengorbanan suci dan persembahan tulus, yang secara turun-temurun dilaksanakan oleh warga masyarakat pada saat-saat tertentu yang disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan hidup seseorang maupun keluarga. Dalam pelaksanaannya, upakara yang disusun dan dihaturkan pada yajña-yajña ini dikerjakan sendiri oleh para anggota keluarga, tanpa menunggu tuntunan langsung dari seorang Pemangku atau Pendeta. Hal ini menunjukkan bahwa kesucian dan keterhubungan manusia dengan Yang Maha Agung tidak terbatas pada dinding tempat sembahyang maupun jabatan pemimpin agama; setiap orang yang berniat tulus, bersih hatinya, dan ingin mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta para Dewata dan leluhur, dapat melaksanakan persembahan suci itu dari rumahnya sendiri, dengan tangannya sendiri.
 Kehadiran yajña yang dapat dikerjakan secara mandiri ini memiliki makna yang sangat dalam, karena menjadikan rumah sekaligus keluarga itu sendiri sebagai pelaksana sekaligus pusat kesucian. Setiap kali ada peristiwa penting—baik saat kelahiran, Otonan, momen pertumbuhan, maupun peringatan-peringatan lain yang mengandung makna syukur—keluarga dapat menyusun banten, melafalkan doa, dan mempersembahkan segala sesuatu yang tulus dari hati. Tidak ada jarak yang memisahkan antara niat dan pelaksanaan, karena kesadaran akan kehadiran Tuhan ada di dalam diri setiap orang, bukan hanya di tempat yang dianggap suci oleh orang lain. Dengan demikian, setiap anggota keluarga perlahan-lahan tumbuh dalam kesadaran spiritual, belajar memahami makna setiap benda yang dipersembahkan, makna setiap kata yang diucapkan, serta makna setiap sikap yang ditunjukkan saat melaksanakan bhakti.
 Tentu saja, dalam pelaksanaannya terdapat berbagai macam yajña yang disesuaikan dengan tujuan dan peristiwa yang dirayakan, lengkap dengan mantra-mantra atau doa-doa yang biasa dipergunakan untuk mengiringi persembahan tersebut. Doa-doa ini menjadi jembatan yang menghubungkan niat batin dengan ungkapan lahiriah, mengubah bahan-bahan sederhana—bunga, air, dupa, makanan—menjadi persembahan yang bermakna luhur. Melalui kata-kata yang diucapkan dengan tulus dan penuh penghayatan, yang tadinya sekadar benda menjadi sarana ungkapan syukur, permohonan, sekaligus kesadaran akan kebesaran dan kehadiran Tuhan yang mengatur segala kehidupan.
 
Inilah bentuk Bhakti yang hidup, yang mengalir dari generasi ke generasi, menanamkan pemahaman bahwa agama bukanlah sesuatu yang hanya dipelajari atau dilaksanakan di tempat yang jauh, melainkan sesuatu yang dijalani sehari-hari, di dalam rumah, di tengah keluarga. Setiap kali seseorang menyusun banten, melafalkan doa, dan mempersembahkannya dengan tulus tanpa harus menunggu diatur oleh orang lain, ia sedang membangun kesadaran bahwa ia adalah bagian dari semesta yang lebih besar, sekaligus utusan dan hamba yang berbakti kepada Yang Maha Agung. Kebebasan untuk melaksanakan kebaktian sendiri ini bukan berarti sembarangan atau tanpa pedoman; justru sebaliknya, ia mendorong setiap orang untuk semakin mendalami makna di balik setiap upacara, semakin menghayati setiap kata yang diucapkan, dan semakin bertanggung jawab atas kesucian niat serta perbuatannya sendiri.
 Dengan demikian, upakara yang dikerjakan sendiri di rumah menjadi cermin bahwa kebenaran dan kesucian itu dekat, dapat dijangkau, dan dimiliki oleh setiap orang yang berniat baik. Tidak ada sekat yang memisahkan antara manusia dan Tuhan, antara yang biasa dan yang suci, antara diri sendiri dan sesama. Semua dapat menyatu dalam bakti yang tulus, dalam doa yang diucapkan dengan penuh rasa hormat dan kasih, serta dalam kehidupan yang dijalani dengan penuh kesadaran bahwa setiap langkah, setiap ucapan, dan setiap persembahan adalah wujud penghormatan kepada Sang Pencipta yang senantiasa melimpahkan rahmat dan kasih-Nya kepada seluruh makhluk.
 YAJÑA BERSIFAT INSIDENTAL
 1. Pada Saat Otonan (Dengan Banten Sesayut)
 a. Ma-bya Kala / Bya Kaon
 - Doa :
Om Sang Bhūta Nampik Lara, Sang Bhūta Nampik Rogha, Sang Bhūta Nampik Mala, Undurākna Lara Rogha Wighnanya Manusanya
Om Sidhirastu Ya Namah Swaha
 
b. Ma-tepung tawar
 - Doa :
Om Pūrṇa Candra, Pūrṇa Bāyu, Mangka Pūrṇanya Manuṣa Maring Mercapada,
Kadi Langgenganing Sūrya Candra, Mang-kana Langgenganipun Manusanya.
Om Sidhirastu Ya Namah Swaha

 c. Masesarik
 - Kening, Om Śrī Śrī Ya Namah Swaha
Bahu Kanan, Om Anengenaken Phala Bhogya namah swaha.
Bahu Kiri, 
TengkukOm Angiwakaken Pañca Bhaya lara Rogaya namah swaha.
Telapak Tangan, Om Angilangaken Sot Papaning wong ya namah swaha.
- Dada : Om Anganti-ati Sabda Rahayu.
 d. Matetebus Benang
 - Doa :
Om Anggabusi Bāyu Pramāṇa Maring Aṅga Śarīra.
e. Natab Sesayut
Ada 2 sesayut yang biasa dipergunakan pada saat otonan sederhana, diantaranya:
 1. Sesayut Bāyu Rauh Sai
 
- Doa :
Om Ang Sang Hyang Jagat Wisesa, Metu Sira Maring Bāyu, Alungguh Maring Bungkahing Adnyanasandi
 2. Sesayut Pangenteg Bāyu
 - Doa :
Om Dananjaya Bāyu Krettam Dasa AtMa Dasa Premanan Sarwa Aṅga Masariram. Whibhuh Bhuvanam Dewa Atmakan
 (Natab ke badan)
 Om Om Śrī Paduka Guru Ya Namah Swaha.
Doa : Om Ung Sang Hyang Antara Wisesa, Metu Sira Maring Sabda, Alungguh Maring Madyaning Adnyana Sandi
 (Natab ke mulut)

 - Doa :
Om Mang Sang Hyang Adnyan Wisesa, Metu Sira Maring Idep, Alungguh Maring Tungtunging Adnyana Sandi
Om Om Śrī Paduka Guru Ya Namah Swaha
 Makna:
Memohon kekuatan Bāyu, Sabda, Idep (Perbuatan, Perkataan dan Pikiran), agar dapat memberikan dukungan kekuatan dalam mengarungi kehidupan ini, dengan penuh kesucian.
 Makna:
Memohon agar Bāyu, Sabda, Idep (unsur panas, Air, udara dalam tubuh) kita senantiasa dalam keadaan seimbang.

Bab 10 MANTRA-MANTRA KHUSUS
----------------------------------------------------------
 Beberapa mantra khusus yang akan diuraikan di bawah ini diantaranya mantra yang biasa diucapkan oleh berbagai profesi, serta saat-saat khusus lainnya.
 A. Berdasarkan Profesi/Pekerjaan
 1. Pedagang
 - Pelinggih : Pelangkiran
- Mantra : Om Kuwera Dewa Ya Namah Swaha
- Segehan : Putih-Kuning
- Mantra : Ih, Sang Kala Katung Boktya Namah Swaha
- Arti : Ya, Sang Kala Katung, hamba menghaturkan persembahan ini, semoga berkenan.
 2. Petugas Kesehatan/Tabib Tradisional
 - Pelinggih : Pelangkiran
- Mantra : Om Sang Hyang Aswino Dewa Ya Namah Swaha. Om Bhagawan Kasyapa Ya Namah Swaha

- Mantra lain : Ih, Sang Bhūta Karipagan Bhoktya Namah Swaha
- Arti : Ya, Sang Bhūta Kapiragan, hamba menghaturkan persembahan ini, semoga berkenan.
 3. Prajurit
 (Samaweda, Purvarchika II. 4. 9)
 
- Mantra : Om endra Pṛkṣu Kāsu Ciṅrmṇam,
Tuṅusu Dehi Naḥ Satrūjid Ugra Pauṁsyāṁ
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, karuniakanlah kami kekuatan fisik dan mental dalam setiap pertempuran. Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, karuniakanlah kemenangan selalu.
 B. Berdasarkan Aktivitas/Kegiatan Sehari-hari maupun Aktivitas Khusus
 1. Mantra Panganjali
 - Mantra : Om Svastyastu
- Arti : Semoga senantiasa dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widhi Wasa.
- Mantra pendek : Om Śānti Śānti Śānti Om
 2. Mantra Bangun Pagi
 (Rgveda VII. 4. 1. 4)
 - Mantra : Om Utedānīm Bhagavantaḥ
Syāmotra Prāvitā Uta Madhye Ahnām,
Utoḍitā Maghavan Sūryāya vayam
Devānām Sumatau Syāma
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Pemurah, jadikanlah kami selalu bersih batin pada pagi hari ini, menjelang tengah hari, apalagi ketika matahari terbit di tengah-tengah, dan ketika bergerak seterusnya. Semoga para Dewa berkenan menganugerahkan rahmat-Nya kepada kami.
 3. Mantra Mandi
 
(Rgveda X. 9. 8)
Hal 37 
- Mantra : Om Idamāpaḥ Pra Vahata
Yatkīm Ca Duritāṁ Mayi,
Yadvāham Abhidudroha Yadvha Śepa Utānṛtam
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, apa pun terdapat pada diri kami, segala kejahatan apa pun yang telah kami lakukan, demikian pula kebohongan dan kata-kata keliru yang telah kami ucapkan, semogalah dengan keberkahan air yang dibersihkan ini menjauhkan kami dari segala kesalahan tersebut.
 4. Mantra Makan (Diucapkan Sebelum Makan)
 (Yajurveda XI. 83)
 - Mantra : Om Annapate Annasya
No Dehvamivasyasu Suṣmiṇaḥ
Pra-pra Dātāran Tariṣa Urjan
No Dhehi Dvīpade Catuṣ Pade
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, Engkau penguasa makanan, anugerahkanlah agar makanan ini memberikan kekuatan, menjauhkan dari penyakit. Selanjutnya bimbinglah kami, anugerahkanlah kekuatan kepada makhluk berkaki empat dan berkaki dua.
 5. Mantra Memulai Pekerjaan
 - Mantra : Om Avighnam Astu Nama Siddham
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Agung, semoga senantiasa tiada halangan dan berhasil.
 
6. Mantra Menyudahi Pekerjaan
 - Mantra : Om Dewa Sūkṣma Parama Acintya
Ya Namah Swaha
Sarwa Kārya Prasiddham
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam wujud yang maha gaib dan maha karya, anugerah-Mu membuat pekerjaan ini dapat berhasil dengan baik.

7. Mantra Mohon Perlindungan dari Rasa Takut
 - Mantra : Tryambakam Yajāmahe
Sugandhiṁ Puṣṭivardhanam,
Urvārukam Iva Bandhanān
Mṛtyor Mukṣīya Māṁṛtat
Om Śānti Śānti Śānti Om
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, hamba memuja-Mu. Hindarkanlah kami dari belenggu dosa, bagaikan mentimun yang terlepas dari tangkainya, bebaskan hamba dari derita dan maut. Semoga Damai, Damai, Damai.
 8. Mantra Untuk Menghindar dari Malapetaka
 - A. Mantra : Om Sarwa Papa Wīna Śāni.
Sarwa Kleśa Wināśanam
Sarwa Bhotam Āwapnuyat
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, ampunilah segala persembahan kami, semoga semua penderitaan musnah, semua kutukan, hina hamba, kebencian dan dendam musnah, semua bencana-bencana tidak mengganggu.
- B. Mantra : Om Śrīkare Sapa Hutkare
Roga Dosa Wināśanam
Śiwa Lokam Mahayaste
Mantra Manah Papa Kālah
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, Engkau yang dipuja di jagat raya, Engkau yang menyejukkan isi segala mantram, bebaskanlah kami dari segala dosa dan derita, serta tuntunlah kami ke jalan yang benar.
 9. Mantra Untuk Menolak Bahaya
 - Mantra : Om Asta Maha Bayaya. 
Om Sarwa Dewa, Sarwa Śenjata
Sarwa Warṇa Ya Namah,
Hal 39
Om Atma Rakṣa Ya Sarwa Śatru
Wināsaya Namah Swaha
- Arti : Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, tolaklah bahaya dan segala penjuru, hamba memuja-Mu dalam wujud sinar suci beraneka warna dan senjata yang ampuh. Ya tuhan yang maha kuasa, lindungilah jiwa hamba, semoga semua rintangan dan mara bahaya binasa atas kemahakuasaannya.

Bab 11 PUJA TRISANDHYA
---------------------------------------------
 Puja Trisandhya, sebagaimana tersirat dari namanya, secara harfiah diartikan sebagai persembahyangan sekaligus jalinan hubungan batin yang terus-menerus terpelihara dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Menyeluruh, yang dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam satu hari. Tiga waktu ini bukan sekadar pembagian jam di atas permukaan bumi, melainkan momen-momen suci di mana alam dan diri manusia bergetar selaras dengan ritme semesta: saat fajar menyingsing ketika matahari baru terbit, tengah hari ketika cahaya berada di puncaknya, dan senja ketika cahaya perlahan berpulang untuk memberi ruang kepada kegelapan. Pada ketiga saat inilah jiwa diingatkan untuk kembali pulang, berhenti sejenak dari segala urusan dunia, dan mengarahkan pandangannya kepada Yang Maha Sumber dari segala cahaya dan kehidupan.
Tidak ada paksaan dalam pelaksanaannya, melainkan kesadaran yang tumbuh dari keinginan tulus untuk dekat dengan Yang Maha Hadir. Puja Trisandhya menjadi jembatan yang menghubungkan kehidupan lahiriah yang sibuk dengan kehidupan batiniah yang sunyi; ia mengajarkan bahwa di tengah segala kesibukan, selalu ada waktu untuk berhenti, bersyukur, dan menyadari kehadiran Tuhan yang senantiasa menyertai setiap langkah. Setiap kali diucapkan, doa ini menjadi pengingat bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian, bahwa napas yang dihembuskan, kekuatan yang dimiliki, dan kesempatan yang diberikan semuanya adalah anugerah yang tak terhitung nilainya.
 Dalam pelaksanaannya, Puja Trisandhya bukan sekadar mengucapkan rangkaian kata, melainkan menata kembali keseluruhan diri—dari sikap tubuh, ketenangan napas, kemurnian tangan, kebersihan mulut, hingga ketulusan hati—sehingga menjadi wadah yang layak untuk menerima kedatangan kesadaran suci. Mulai dari duduk yang tenang, mengatur napas agar seirama dengan ketenangan jiwa, membersihkan anggota tubuh dari segala noda lahir dan batin, hingga menyatukan pikiran dalam keheningan, semuanya dilakukan dengan niat tulus agar persembahan yang dipersembahkan murni dan berkenan di hadapan Ida Sang Hyang Widhi.

 Melalui mantra-mantra yang diwariskan turun-temurun, hati diajarkan untuk memuja, memohon, memohon ampun, dan akhirnya meleburkan diri dalam kedamaian sejati. Setiap bait yang diucapkan mengandung makna yang mendalam: ada pengakuan akan kebesaran-Nya, ada permohonan agar hati diberi cahaya, ada kesadaran bahwa segala yang ada di alam semesta ini hanyalah perwujudan dari-Nya, ada permohonan perlindungan, ada pengakuan atas kekhilafan diri, dan di akhir mantra ada penyerahan diri sepenuhnya dalam kedamaian yang tak tergoyahkan.
 Demikianlah Puja Trisandhya menjadi pelita yang dinyalakan tiga kali setiap hari, agar di manapun berada, sesibuk apapun keadaan hidup, hati selalu memiliki jalan pulang menuju kedamaian, selalu memiliki tempat untuk menyandarkan segala harap dan cemas, dan selalu ingat bahwa di atas segala yang tampak, ada Yang Maha Agung yang senantiasa melindungi, mengasihi, dan menuntun makhluk-Nya kembali kepada cahaya yang abadi.
 1. Āsana
 Dilakukan pengambilan sikap sembahyang yang sempurna berupa:
 - PADMĀSANA untuk Pria
- BAJRĀSANA untuk Wanita
- Mantra : Oṁ Prasada sthiti Śarīra Śiwa Suci Nirmala Ya Namaḥ Swaha
- Arti : Ya Tuhan, dalam wujud Śiwa, suci tak ternodai, hamba telah duduk dengan tenang.
 2. Prāṇāyāma
 Dilakukan pengaturan pernafasan dengan tenang, menghirup maupun menghembuskan nafas, disertai mantra sebagai berikut:
 - PŪRAKA — Menghirup Nafas
- Mantra : Oṁ Aṅg Namaḥ
- KUMBHAKA — Menahan Nafas
- Mantra : Oṁ Uṅg Namaḥ
- RECAKA — Menghembuskan Nafas
- Mantra : Oṁ Maṅg Namaḥ
  3. Kara Śuddhaṇa
 - Tangan Kanan di atas Tangan Kiri

- Mantra : Oṁ Śuddha Mam Swaha
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah hamba.
- Tangan Kiri di atas Tangan Kanan
- Mantra : Oṁ Ati Śuddha Mam Swaha
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah hamba sepenuhnya.
  4. Waktra Śuddha
 - Mulut dibersihkan dengan mantra
- Mantra : Oṁ WAKTRA ŚUDDHA YA NAMAḤ
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah mulut hamba dari perkataan yang penuh noda.
 5. Karṇa Śuddha
 - Telinga dibersihkan dengan mantra
- Mantra : Oṁ Karṇa Śuddha Ya Namaḥ
- Arti : Ya Tuhan, sucikanlah telinga hamba dari pendengaran yang ternoda.
 Setelah persiapan untuk melakukan Puja Trisandhya selesai, ada baiknya dilakukan hening selama beberapa menit, agar tercapai keadaan yang benar-benar rileks, tanpa beban. Pada saat tubuh seolah-olah tak terasa lagi, disertai sensasi ringan pada tubuh, Puja Trisandhya dapat dimulai.
 
6. Puja Trisandhya
 I. Bait Kesatu
 - Mantra :
Oṁ, Oṁ om Bhūr Bhuvaḥ Swah
Tat Savitur Vareṇyaṁ
Bhargo Devasya Dhīmahi
Dhīyo Yo Nah Pracodayāt
- Arti :
Hal 42
Oṁ, adalah Bhūr, Bhuvaḥ, Swah, kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Sang Hyang Widhi, semoga Ia berikan semangat pikiran kita.
 II. Bait Kedua
 - Mantra :
Oṁ, Nārāyaṇa Evedaṁ Sarvaṁ,
Yadbhūtaṁ Yac Ca Bhavyam
Niṣkalaṅko Nirañjano Nirvikalpo
Nirākhyātaḥ Śuddho Deva Eko
Nārāyaṇo Na Dvitīyo Asti Kaścit
 lll bait ketiga 
Mantra: om twam siwah twam mahadewah. 
Iswarah parameswarah
Brahma, wisnu ca rudrasca
Purusah parikir kirtah
lV bait keempat 
Mantra: om papa ham papa karmaham
Papatma papasambawah
Trahimam pundarikaksah
Sabahya byantara suci
V. Bait Kelima
 - Mantra :
Oṁ Kṣama Sva Māṁ Mahādevaḥ,
Sarva Prāṇī Hitāṅkaraḥ
Māṁ Moca Sarva Pāpebhyaḥ
Pālaya Sva Śuddha Śiwa
Hal 43
- Arti :
Oṁ, ampunilah hamba Sang Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk hidup, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah oh Sang Hyang Widhi.
 VI. Bait Keenam
 - Mantra :
Oṁ Kṣantavyaḥ Kayiko Doṣāḥ,
Kṣantavyo Vāciko Mama
Kṣantavyo Mānasa Doṣāḥ
Tat Pramādāt Kṣama Sva Māṁ
- Arti :
Oṁ, ampunilah dosa perbuatan hamba, ampunilah dosa perkataan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
 VII. Penutup
 - Mantra : Oṁ, Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ Oṁ
- Arti : Oṁ, Damai, Damai, Damai, Oṁ.

Bab 12 Mantram Kramaning Sembah (Panca Sembah)
--------------------------------------------------------------------------------------
Sebelum melaksanakan Mantram Kramaning Sembah, pemangku biasanya menyarankan agar Pemedek menyucikan bunga dengan asap dupa. Berikut adalah Mantramnya.
Om puspa dantà ya namah swaha
 Artinya: Ya Tuhan, semoga bunga ini cemerlang dan suci.
 Urutan-urutan sembah baik pada waktu sembahyang sendiri ataupun sembahyang bersama yang dipimpin oleh Sulinggih atau seorang Pemangku adalah seperti di bawah ini:
 
1. Sembah puyung (sembah dengan tangan kosong)
 Om atma tattwatma suddha mam swaha
 Om, atma, atmanya kenyataan ini, bersihkanlah hamba.
 2. Sembah pakai bunga (Menyembah Sanghyang Widhi sebagai Sang Hyang Aditya)
 Om Aditisya paramjyoti, rakta teja namo’stute, sveta pankajamadhyastha,bhaskarayanamo’stute
 Om, sinar surya yang maha hebat,
Engkau bersinar merah,
hormat pada-Mu,
Engkau yang berada di tengah-tengah teratai putih,
Hormat pada-Mu pembuat sinar.
 3.  Sembah pakai Kwangen atau bunga lengkap 
(Menyembah Tuhan sebagai Ibu Dewata pada hari dan tempat persembahyangan)
 Ibu Dewata artinya Dewata yang diingini hadirnya pada waktu pemuja memuja-Nya. Ista Dewata adalah perwujudan Tuhan dalam berbagai wujud-Nya seperti Brahma, Wisnu, Siwa, Saraswati, Gana, dan sebagainya. Karena itu mantramnya bermacam-macam sesuai dengan Dewata yang dipuja pada hari dan tempat itu. Misalnya pada hari Saraswati yang dipuja adalah Dewi Saraswati dengan Saraswati Swaha. Pada hari lain dipuja Dewata yang lain dengan stawa-stawa yang lain pula. Pada persembahyangan seperti pada persembahyangan hari Purnama dan Tilem, Dewata yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa yang berada di mana-mana. Stawanya sebagai berikut:
 Om nama deva adhisthanneya,
sarva vyapi ca siwe,
padmasana ekapratisthaya, ardhanaresvaryai namo namah
 Om, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat yang tinggi, kepada Siwa yang sesungguhnyalah berada di mana-mana, kepada Dewa yang bersemayam pada tempat duduk bunga teratai sebagai satu tempat, kepada Ardhanareswari, hamba menghormat.

4. Sembah pakai Kwangen lagi atau bunga lengkap (Menyembah Tuhan sebagai Pemberi Anugrah)
Om anugraha manohara,
devadatta nugrahakam
arcanam sarva pujananam,
namah sarva nugrahakam
deva devi mahasiddhi,
yajnanga nirmalatmakam
laksmi siddhisca dirghayuh,
nirvighna sukha vrddhisca
Om, Engkau yang menarik hati, pemberi anugerah,
anugerah pemberian dewa, pujian semua pujaan,
hormat pada-Mu pemberi semua anugerah.
Kemahasidian Dewa dan Dewi, berwujud yadnya, pribadi suci. kebahagiaan, kemakmuran, umur panjang, bebas dari rintangan, kegembiraan dan kemajuan
 5. Sembah puyung (Sembah dengan tangan kosong)
 Om deva suksma paramacintya nama swahaOm, hormat pada Dewa yang tak terpikirkan yang
maha tinggi yang gaib
 
Daftar pustaka: 
1) Buku Pujastawa 
(tuntunan mantra untuk piodalan dan harian) 
Gede Agus Budi Adnyana
Penerbit Gandapura Gianyar 2010

2) buku doa sehari-hari
(keluarga dan masyarakat Hindu) 
Ida pandhita Mpu Jaya Wijayananda
Penerbit paramita surabaya 2004

3) Buku Panca Sembah
(sikap yang ampuh untuk membangkitkan Kundalini) 
Guru Made Sumantra) 
Penerbit Gandapura Gianyar 2012

Novelet Kisah Dewi Saraswati.

Judul buku : Kisah Dewi Saraswati
Penulis : Made Budilana. 

Kata Pengantar

Segala puji syukur kami panjatkan ke hadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sumber segala cahaya, kebijaksanaan, dan pengetahuan, yang telah melimpahkan anugerah-Nya sehingga buku Kisah Dewi Saraswati ini dapat terselesaikan.
Buku ini hadir bukan sekadar sebagai kumpulan kisah masa lampau, melainkan sebagai jendela menuju makna sejati ilmu pengetahuan. Dewi Saraswati, sosok yang dilambangkan dengan teratai putih, kecapi, dan kitab suci, mengajarkan kita bahwa ilmu bukanlah sekadar hafalan atau gelar, melainkan cahaya yang harus dibagikan, dijunjung dengan kerendahan hati, dan dijalankan dengan kebijaksanaan. 

Semoga setiap halaman dalam buku ini menumbuhkan rasa cinta kita terhadap pengetahuan , menghargai pengetahuan, dan menjaga kejernihan pikiran serta hati.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu mewujudkan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya, serta menjadi pelita yang senantiasa menuntun langkah kita menuju kebenaran yang abadi.
(Penulis)

Bab 1: Cahaya yang Muncul dari Keheningan
------------------------------------------------------------------------
Di masa yang tak terukur oleh hari maupun malam, sebelum bintang-bintang menempati tempatnya di langit dan sebelum sungai pertama mengalir ke lautan, terhampar keheningan yang penuh misteri. Di sana, di kedalaman kesadaran yang maha luas, segala sesuatu masih menyatu dalam kebenaran yang belum terucap. Para Dewa pun belum memiliki wujud yang nyata — mereka hanyalah getaran-getaran halus yang menjaga keseimbangan alam semesta.

Namun ada satu hal yang membuat hati para Dewa merasa belum lengkap. Segala sesuatu ada di hadapan mereka, namun tak ada yang mampu menjelaskan apa itu segala sesuatu. Cahaya ada, namun tak ada yang mengetahui asal cahaya itu. Kehidupan ada, namun tak ada yang mampu merenungkan makna kehidupan. Seakan-akan alam semesta memiliki mata namun belum memiliki penglihatan, memiliki telinga namun belum memiliki pendengaran, dan memiliki hati namun belum memiliki pemahaman.

Suatu ketika, dari kedalaman kebenaran yang paling murni, terciptalah sebuah keinginan yang lembut namun kuat — keinginan agar kebijaksanaan itu terwujud, agar pengetahuan itu terungkap, agar kata-kata menjadi sarana kebenaran, dan agar hati manusia kelak mampu memahami rahasia yang tersembunyi di balik ciptaan.

Dari keinginan yang suci itu, muncullah cahaya yang sangat lembut namun terang benderang — tidak menyilaukan mata, namun menenangkan hati siapa pun yang memandangnya. Semakin lama cahaya itu semakin jelas membentuk sosok wanita yang agung namun lembut, berwajah damai, dengan mata yang memancarkan kedalaman samudra pengetahuan. Di tangan kanannya, tiba-tiba muncul kitab suci yang berisi segala rahasia alam semesta. 

Di tangan kirinya, muncul alat musik dawai yang namanya Wina, yang senarnya bergetar selaras dengan irama alam semesta. Ia mengenakan pakaian berwarna putih bersih, dan duduk di atas bunga teratai putih yang mekar sempurna di tengah kolam air murni.
Para Dewa tertegun dan bertanya dengan hormat, "Siapakah Engkau, wahai sosok yang memancarkan cahaya damai ini?"
Sosok itu tersenyum lembut, dan suaranya terdengar jernih seperti air sungai yang mengalir tenang. 

"Aku adalah Saraswati. Aku lahir dari kebenaran itu sendiri. Aku adalah ibu dari segala ilmu, sumber dari segala kebijaksanaan, dan pelindung bagi siapa saja yang rendah hati untuk belajar."
Sejak saat itu, alam semesta bukan hanya ada — ia mulai dipahami. Cahaya bukan hanya terlihat — ia mulai dijelaskan. Dan manusia kelak bukan hanya hidup — ia mulai bertanya, mencari, dan menemukan jalan pulang menuju kebenaran yang abadi.

Bab 2: Sungai Pengetahuan yang Mengalir ke Bumi
--------------------------------------------------------------------------------
Setelah kehadirannya dikenal oleh para Dewa, Dewi Saraswati tidak berdiam diri di surga saja. Beliau memandang ke bawah, ke arah bumi yang masih muda dan hijau. Di sana, manusia dan makhluk hidup lain hidup, namun mereka hidup hanya untuk bertahan — makan, tidur, mencari perlindungan, dan berlindung dari bahaya. Mereka belum tahu cara menuliskan pengalaman mereka, belum tahu cara mewariskan kebijaksanaan kepada anak cucu, dan belum tahu cara memahami dunia tempat mereka tinggal. 

Pengetahuan yang ada hanya tersimpan di dalam hati, dan ketika seseorang pergi, pengetahuan itu ikut hilang bersamanya.
Melihat hal itu, hati Saraswati tergerak. Beliau ingin agar cahaya kebenaran tidak hanya dimiliki oleh para dewa, tetapi juga sampai ke hati manusia. Namun ilmu pengetahuan tidak bisa begitu saja diturunkan seperti hujan yang jatuh dari langit — ia harus dijemput dengan kerendahan hati, dijaga dengan ketulusan, dan diwariskan dengan keikhlasan.

Maka, Dewi Saraswati menjelma menjadi sebuah sungai yang jernih, mengalir lembut dari puncak gunung tertinggi menuju ke lembah-lembah tempat manusia tinggal. Air sungai itu bening bagaikan kaca, memantulkan langit dan pepohonan dengan sempurna. Di sepanjang tepiannya, tumbuhlah pohon-pohon yang memberikan buah dan obat, serta bunga-bunga yang harum mewangi.

Suatu hari, seorang pemuda yang haus akan kebenaran datang ke tepi sungai itu. Ia telah lama bertanya-tanya tentang asal usul dunia, tentang hidup dan mati, dan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup. Ia berlutut, mengambil air sungai itu dengan kedua telapak tangannya, dan meminumnya. Saat air itu menyentuh bibirnya, tiba-tiba pikiran yang selama ini bingung menjadi jernih. 

Kata-kata yang sulit diucapkan menjadi mudah terangkai. Dan di dalam hatinya, lahirlah keinginan kuat untuk belajar, memahami, dan mengajarkan apa yang ia temukan kepada orang lain.
Dari generasi ke generasi, manusia datang ke tepi sungai itu — tidak hanya untuk mengambil air, tetapi juga untuk duduk dalam keheningan, merenung, dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di hati mereka. 

Di sanalah lahir para penyair, para pendidik, para pemikir, dan para penulis. Mereka sadar bahwa sungai itu bukan sekadar air — ia adalah simbol: pengetahuan harus mengalir terus, tak boleh berhenti, tak boleh ditimbun, dan harus menyejukkan siapa saja yang membutuhkannya.
 
Namun Saraswati juga mengingatkan: sungai itu tetap jernih selama airnya mengalir. Jika ia tergenang di satu tempat saja, lama-kelamaan ia akan keruh. Demikian pula ilmu pengetahuan — jika hanya disimpan untuk diri sendiri, lama-kelamaan ia akan kehilangan maknanya. Ia baru menjadi cahaya sejati ketika dibagikan kepada sesama.

Bab 3: Bunga Teratai dan Hati yang Rendah Hati
----------------------------------------------------------------------------
Dewi Saraswati senantiasa digambarkan duduk di atas bunga teratai putih yang mekar sempurna. Bukan tanpa alasan, kisah ini pun tertuturkan dari masa ke masa sebagai pelajaran yang paling dalam bagi siapa saja yang menuntut ilmu.

Pada suatu ketika, ada seorang murid muda yang sangat cerdas. Ia hafal banyak kitab, pandai berbicara, dan merasa dirinya lebih tahu daripada siapa pun di desanya. Ia pun datang kepada seorang guru tua di tepi sungai Saraswati dan berkata dengan bangga, "Aku sudah hafal begitu banyak hal. Mengapa aku masih merasa hatiku gelap dan belum menemukan kedamaian?"

Guru itu tersenyum dan mengajaknya duduk di tepi kolam tempat bunga teratai tumbuh. "Lihatlah bunga teratai itu," katanya lembut. "Akarnya berada di dasar air yang keruh dan berlumpur, namun bunganya tumbuh naik ke permukaan, bersih, putih, dan harum. Ia tidak menolak tempatnya berasal, tetapi ia tidak membiarkan lumpur di bawahnya mengotori dirinya. Demikian pula pengetahuan sejati — ia bisa tumbuh di mana saja, asalkan hati kita tetap jernih dan rendah hati."

Murid itu terdiam. Ia baru menyadari bahwa kecerdasan yang dibarengi dengan kesombongan ibarat buku yang halaman-halamannya robek — tampak berharga, namun isinya tak sampai ke hati. Ilmu pengetahuan ibarat air sungai: jika wadahnya sempit dan penuh keangkuhan, air itu akan tumpah keluar. Namun jika wadahnya luas dan rendah hati, air pengetahuan itu akan tertampung dan menyejukkan.
Dewi Saraswati mengajarkan: pintu kebijaksanaan hanya terbuka bagi mereka yang sadar bahwa apa yang mereka ketahui hanyalah setetes air di samudra yang tak bertepi. 

Semakin banyak kita belajar, semakin kita sadar betapa luasnya hal yang belum kita ketahui. Itulah mengapa beliau memegang kitab di tangan kanan — pengetahuan yang harus dipelajari seumur hidup — dan wina di tangan kiri — kebijaksanaan yang selaras dengan kebenaran, bukan sekadar dihafal tetapi dihayati.
Hingga kini, bunga teratai putih itu menjadi pengingat abadi: menuntut ilmu memang penting, tetapi menjaga hati tetap tulus dan rendah hati adalah hal yang jauh lebih penting. 

Tanpa itu, sebanyak apa pun yang kita ketahui, tak akan berarti apa-apa bagi dunia dan bagi diri kita sendiri.
 
Bab 4: Bunyi Wina yang Menyadarkan Dunia
----------------------------------------------------------------------
Di tangan kiri Dewi Saraswati, senantiasa terpegang sebuah alat musik yang indah — Wina. Tali senarnya halus namun kuat, dan jika dipetik, suaranya tidaklah berisik atau berlebihan, melainkan lembut namun menembus hingga ke kedalaman hati. Dikisahkan bahwa bunyi Wina ini bukan sekadar irama yang enak didengar, melainkan cerminan dari kebenaran yang selaras dengan alam semesta.

Pada suatu masa, di sebuah lembah yang jauh, hiduplah seorang penyair yang pandai merangkai kata-kata indah. Ia hafal banyak syair, mampu berbicara dengan lantang, dan semua orang kagum dengan kemampuannya. Namun kata-katanya hanya terdengar manis di permukaan — ia berbicara tentang kebijaksanaan, namun hatinya penuh kesombongan. Ia mengajarkan kebaikan, namun iri ketika melihat orang lain lebih dihormati darinya. 

Suatu malam, dalam mimpinya, ia mendengar bunyi yang sangat jernih dan menenangkan — bunyi yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Bunyi itu bukan berasal dari luar dirinya, melainkan dari dalam hatinya sendiri yang selama ini tertutup oleh keinginan untuk dipuji.
Penyair itu terbangun dengan perasaan yang aneh. Ia pun berjalan jauh hingga ke tepi sungai suci tempat Dewi Saraswati hadir. 

Di sana, beliau sedang duduk tenang memetik senar Wina. Setiap kali jari-jari beliau menyentuh senar, suasana di sekitarnya menjadi damai, angin berhenti berhembus kencang, dan burung-burung pun ikut terdiam mendengarkan. Penyair itu berdiri dalam keheningan, tak berani berbicara.

Dewi Saraswati menatapnya dengan senyum yang lembut dan berkata, "Lihatlah senar Wina ini. Jika senar terlalu kendur, ia tak akan berbunyi. Jika terlalu kencang, ia akan putus. Hanya jika tepat selaras, ia menghasilkan nada yang indah. Demikian pula kata-kata. Jika terlepas dari kebenaran, ia tak bermakna. Jika dipaksakan, ia menyakiti. Hanya yang lahir dari hati yang selaras dengan kebaikan, akan sampai ke hati pendengarnya."
 
Penyair itu menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ia akhirnya memahami: keindahan bahasa bukanlah kekuatan sejati. Kekuatan sejati ada pada kebenaran yang diucapkan dengan tulus. Sejak hari itu, ia tidak lagi berbicara untuk dikagumi, melainkan untuk menyadarkan. Kata-katanya sederhana, namun setiap orang yang mendengarnya merasa disentuh dan terhibur.
 
Wina di tangan Dewi Saraswati hingga kini menjadi pengingat abadi: ilmu pengetahuan tanpa kebaikan hati ibarat senar yang putus — indah dilihat, namun tak menghasilkan nada yang berarti. Semoga perkataan kita senantiasa selaras dengan pikiran yang benar, dan pikiran kita selaras dengan hati yang tulus.

Bab 5: Kitab yang Tak Boleh Ditutup
--------------------------------------------------------
Di tangan kanan Dewi Saraswati, terpegang sebuah kitab suci yang halaman-halamannya memancarkan cahaya lembut. Kitab itu tidak terbuat dari kertas biasa, dan tulisannya tidak tertulis dengan tinta yang bisa luntur. Isinya adalah kebenaran yang abadi — tentang asal mula alam semesta, tentang keseimbangan hidup, tentang hubungan manusia dengan sesama dan dengan alam.

Dikisahkan bahwa dahulu kala, kitab itu pernah ditutup rapat oleh para dewa, karena khawatir jika jatuh ke tangan yang salah, pengetahuan itu justru bisa melukai. Pengetahuan tentang obat bisa menjadi racun jika disalahgunakan; pengetahuan tentang kekuatan alam bisa menjadi bencana jika dikuasai oleh hati yang sombong. Namun Dewi Saraswati memohon dengan lembut, "Jangan biarkan cahaya terpendam dalam gelap. Biarkan setiap orang yang rendah hati dan tulus, boleh membukanya sedikit demi sedikit, sesuai dengan kesiapan hatinya."

Maka sejak saat itu, kitab itu terbuka selamanya — namun kunci untuk memahaminya bukanlah kekuasaan atau kekayaan, melainkan ketulusan hati.
Banyak orang datang ingin membacanya. Ada yang hanya melihat halaman depan lalu merasa sudah tahu segalanya dan pergi dengan bangga — namun mereka pulang tanpa membawa apa-apa, karena mata mereka melihat tulisan, tetapi hati mereka buta akan maknanya. 

Ada yang membacanya hanya untuk dipuji orang lain — mereka hafal setiap baris, namun hidup mereka tidak berubah menjadi lebih baik. Dan ada yang membacanya dengan air mata di mata dan kerendahan hati — mereka tidak banyak berbicara, namun hidup mereka menjadi cahaya bagi orang lain.

Dewi Saraswati mengajarkan: kitab kehidupan ini tidak akan pernah selesai dibaca. Bahkan orang yang paling bijaksana sekalipun hanyalah membaca satu halaman kecil saja dari kebenaran yang tak bertepi. Menutup kitab karena merasa sudah cukup pintar, sama dengan berhenti hidup dalam pertumbuhan jiwa. Selama napas masih ada, selama langkah masih berjalan, pintu belajar harus selalu terbuka. 

Karena hari ini yang kita ketahui, besok mungkin sudah bertambah luas pemahamannya. Semangat menuntut ilmu adalah semangat yang tak boleh padam, seumur hidup.
 
 Bab 6: Pengetahuan yang Tak Boleh Ditimbun
------------------------------------------------------------------------
 Suatu ketika, hiduplah seorang lelaki yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ia mengumpulkan banyak kitab, menghafal banyak syair, dan memahami rahasia-rahasia alam yang jarang diketahui orang lain. Namun ia menyimpannya sendirian di dalam ruangannya yang tertutup rapat. Ia berpikir: "Jika aku ajarkan ini kepada orang lain, mereka akan sama pintarnya denganku, dan aku tidak lagi menjadi yang paling dihormati."

Lama-kelamaan, ia merasa hatinya semakin sepi meski dikelilingi tumpukan kitab. Pengetahuannya tidak tumbuh, justru terasa semakin berat dan menyesakkan dadanya. Suatu malam, ia bermimpi berdiri di tepi sungai yang indah. Di sana, Dewi Saraswati sedang berdiri menatapnya dengan senyum yang lembut namun penuh makna. Beliau menunjuk ke arah air sungai yang mengalir deras ke arah lembah.

 "Lihatlah air itu," ucap beliau. "Jika air ini berhenti di satu tempat saja dan engkup di dalam kolam yang tertutup, apa yang akan terjadi?"
Lelaki itu menjawab, "Airnya akan tergenang, lama-lama menjadi keruh, dan akhirnya berbau busuk."
"Demikian pula ilmu pengetahuan," kata Saraswati dengan lembut namun tegas. "Pengetahuan yang ditimbun hanya untuk diri sendiri, lama-kelamaan akan keruh dan berubah menjadi kesombongan. 

Ia baru bernilai sejati ketika mengalir, dibagikan, dan memberi kehidupan bagi banyak orang. Cahaya yang disembunyikan di bawah meja tidak akan menerangi siapa pun — termasuk dirimu sendiri."
Terbangun dari mimpi itu, hatinya terguncang. Ia segera membuka pintu ruangannya, memanggil anak-anak muda di desanya, dan mulai mengajarkan apa yang ia ketahui. Ajaibnya, bukannya berkurang, pengetahuannya justru semakin bertambah luas. 

Semakin banyak ia berbagi, semakin dalam pula pemahamannya. Ia menyadari kebenaran yang abadi: ilmu pengetahuan adalah satu-satunya harta yang tidak berkurang ketika dibagikan — justru semakin terang benderang, semakin dalam maknanya, dan semakin abadi keberadaannya.
 
Sejak saat itu, ia mengajarkan kepada siapa saja yang ingin belajar, tanpa membeda-bedakan siapa mereka. Karena ia sadar — cahaya kebijaksanaan bukan milik seseorang, melainkan warisan bersama yang harus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Bab 7: Tangan yang Terbuka untuk Setiap Hati
--------------------------------------------------------------------------
Dewi Saraswati tidak pernah membeda-bedakan siapa yang datang kepada-Nya. Beliau tidak menanyakan status, kekayaan, kedudukan, maupun asal-usul. Bagi-Nya, seorang anak kecil yang bertanya dengan mata berbinar sama berharganya dengan seorang pendeta yang hafal kitab-kitab suci. Seorang petani yang ingin memahami rahasia tanah dan tanaman, sama layaknya dengan seorang raja yang mencari kebijaksanaan memimpin rakyat. 

Karena kebenaran sejati tidak mengenal tingkatan sosial — ia ada untuk siapa saja yang hatinya terbuka dan rendah.
Suatu ketika, datanglah seorang pemuda yang miskin pakaiannya lusuh, tangannya kasar karena bekerja di ladang. Ia malu berdiri di antara para pendeta dan bangsawan yang datang dengan persembahan megah. Namun Saraswati melihat ke dalam hatinya — yang tulus, yang haus akan cahaya, yang ingin hidup benar meski sederhana. 

Beliau memeluknya dengan kasih yang sama besarnya seperti yang diberikan kepada siapa pun yang agung.
"Ilmu pengetahuan bukan hak istimewa golongan tertentu," ucap beliau lembut. "Matahari tidak memilih siapa yang boleh terkena sinarnya — ia bersinar untuk semua. Demikian pula kebijaksanaan — ia datang kepada siapa pun yang membuka pintu hatinya, tanpa terkecuali."

Beliau mengajarkan bahwa ada dua hal yang membuka pintu kebijaksanaan sejati: keinginan untuk tahu yang benar, dan keinginan untuk hidup yang baik. Yang pertama membuat kita cerdas, yang kedua membuat kita bijaksana. Tanpa yang kedua, yang pertama bisa menjadi pedang bermata dua yang menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Hingga kini, di setiap sudut dunia, di setiap sekolah, di setiap perpustakaan, di setiap tempat belajar — kehadiran beliau terasa tenang dan menyentuh. 

Ketika seorang anak membuka buku, beliau hadir membimbing pikirannya. Ketika seorang guru berdiri mengajar dengan tulus, beliau hadir menyucikan niatnya. Ketika seseorang bingung dan berdoa memohon petunjuk, beliau hadir menenangkan hatinya agar mampu membedakan mana yang benar dan mana yang semu.
 
Beliau tidak meminta bunga termahal atau sesaji yang berlimpah. Yang beliau minta hanyalah: membuka pikiran, menjaga kebenaran, dan berbagi ilmu kepada siapa saja yang membutuhkannya. Itulah persembahan yang paling disukai Dewi Saraswati — lebih harum dari bunga, lebih murni dari air suci, dan lebih abadi dari emas permata.
 
Bab 8: Cahaya yang Tak Pernah Padam
----------------------------------------------------------------
Berabad-abad telah berlalu sejak Saraswati pertama kalkoi hadir di alam semesta. Sungai-sungai telah berganti alur, gunung-gunung telah berubah rupa, dan peradaban manusia telah berkembang pesat. Namun satu hal yang tak pernah berubah: kebutuhan manusia akan cahaya kebenaran, kebijaksanaan, dan ilmu pengetahuan tetap abadi, sama seperti dahulu kala.
Dewi Saraswati tidak hadir hanya di pura atau di tempat-tempat suci. 

Beliau hadir di setiap ruang kelas tempat anak-anak belajar membaca, di setiap perpustakaan tempat orang merenung dalam keheningan, di setiap meja tulis tempat pena bergerak menorehkan kebenaran, dan di setiap hati yang rendah hati berkata: "Aku belum tahu, izinkan aku belajar."
Beliau mengingatkan kita bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada kata cukup, tidak ada kata selesai. Hari ini yang kita ketahui, besok akan bertambah luas pemahamannya. 

Dan yang terpenting: ilmu yang dimiliki bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk dibagikan. Buku yang tertutup rapat di rak yang tinggi sama dengan tidak ada. Pengetahuan yang disimpan sendiri lama-lama akan hilang, namun yang diajarkan kepada orang lain akan hidup selamanya.
Terakhir, beliau berpesan dengan kelembutan yang menenangkan: 

"Jangan takut tidak tahu. Yang ditakuti adalah tidak ingin tahu. Jangan malu bertanya. Yang memalukan adalah berpura-pura tahu padahal tidak mengerti. Dan jangan pernah berhenti belajar, karena sejatinya hidup itu sendiri adalah sekolah terbesar, dan dunia ini adalah kitab yang tak akan pernah selesai dibaca."

Di mana pun ada pencari kebenaran, di sanalah beliau hadir. Di mana pun ada orang yang berusaha berbuat baik dengan ilmunya, di sanalah cahayanya menyinari. Dan di mana pun ada hati yang terbuka untuk memahami dunia dengan tulus, di sanalah teratai putih itu mekar tenang — mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan sejati tumbuh dari hati yang murni, rendah, dan tak pernah berhenti belajar.

Tamat.

Terima kasih telah menyimak kisah Dewi Saraswati hingga akhir. Semoga cahaya ilmu dan kebijaksanaan senantiasa menerangi langkah kita semua. Semangat menuntut ilmu!.