Senin, 03 Agustus 2026

Bab 22 Kisah Cinta Semara Jaya Dan Dewi Ratih.

Bab 22 Kisah Cinta Semara Jaya Dan Dewi Ratih.

Dahulu kala, di puncak gunung yang paling tinggi dan sunyi, Dewa Siwa sedang tenggelam dalam tapa yang begitu dalam dan suci, seakan menyatu sepenuhnya dengan alam semesta. Pikiran-Nya tenang tanpa gangguan, hati-Nya damai tanpa tergoyahkan oleh keinginan apa pun, seluruh wujud-Nya terpusat pada hakikat kebenaran yang abadi. Sementara itu, di langit dan bumi para dewa serta makhluk lain hidup dalam kegelisahan yang besar. Ada raksasa bernama Tarakasura yang memiliki kekuatan dahsyat, ia telah menaklukkan banyak tempat dan menindas siapa saja yang berani melawannya. Tidak ada satu pun di antara para dewa yang mampu mengalahkannya, nampak seolah kekuatan jahat itu akan berkuasa selamanya. Hingga akhirnya mereka mendapatkan petunjuk jelas: hanya putra yang lahir dari Dewa Siwa dan Dewi Parwati kelak yang memiliki kekuatan sejati untuk menaklukkan raksasa tersebut dan mengembalikan kedamaian di seluruh alam.
 
Maka demi keselamatan semesta, para dewa pun memohon kepada Dewa Asmara, yang di tanah Bali kita kenal dengan sebutan Semarajaya atau Kamajaya, agar beliau sudi membangkitkan kembali rasa kasih dan rindu yang sempat terhenti di dalam hati Dewa Siwa terhadap Dewi Parwati. Dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat, Dewa Semarajaya menghampiri tempat Dewa Siwa bersemedi, mengangkat busur yang terbuat dari tangkai bunga indah, lalu melepaskan panah yang ujungnya dihiasi bunga-bunga semerbak wangi tepat ke arah hati Sang Dewa. Seketika suasana sunyi itu berubah, ketenangan yang sempurna tadi terasa terusik, dan kesadaran Dewa Siwa kembali terbangun oleh getaran rasa cinta yang tulus.
 
Namun karena tapa-Nya begitu suci dan kekuatan-Nya begitu besar, begitu tersentak Sang Dewa membuka mata ketiga-Nya, terlepaslah cahaya api pengetahuan dan kebijaksanaan yang tak terbayangkan panasnya. Cahaya itu menyambar ke arah Dewa Semarajaya, dan dalam sekejap tubuh fisik beliau lenyap seketika menjadi abu yang beterbangan diterpa angin. Melihat kekasih dan suaminya musnah begitu saja, Dewi Ratih tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam, ia bersujud dengan tulus memohon belas kasih kepada Dewa Siwa agar keberadaan kekuatan cinta itu tidak hilang begitu saja dari dunia. Permohonan yang tulus dan penuh kesetiaan itu pun dikabulkan oleh Dewa Siwa. Dewa Semarajaya kembali hidup dan hadir di antara makhluk hidup, namun kali ini beliau tidak lagi memiliki wujud tubuh yang bisa dilihat mata kasar. Beliau kini hidup meresap ke setiap ruang, menyusup ke dalam hati setiap makhluk yang bernyawa.
 
Lantas apa makna mendalam dari segala peristiwa ini? Mengapa kekuatan cinta itu akhirnya tidak berwujud sama sekali? Jawabannya sesungguhnya sangat sederhana namun penuh hikmah: cinta, kasih sayang, kerinduan, dan keinginan yang tulus itu memang hakikatnya tidak bisa dilihat oleh mata badan. Kita tidak pernah bisa memegang bentuknya, tidak pernah bisa menggambar wujudnya, namun kita bisa merasakan kehadirannya begitu nyata dan kuat. Ia menggerakkan hati orang untuk berbuat baik, menguatkan jiwa yang sedang rapuh, dan menyatukan hati yang berbeda-beda menjadi satu kesatuan yang indah. Kekuatan itu bekerja dari dalam, membimbing pikiran dan perasaan kita tanpa perlu menampakkan rupa apa pun.
 
Kisah ini juga mengajarkan kita hikmah yang mendalam tentang diri sendiri. Api kebijaksanaan dan kesadaran yang murni memang mampu membakar segala keterikatan yang berlebihan, keinginan yang hanya mementingkan diri sendiri, serta hawa nafsu yang bisa menyesatkan. Namun, kekuatan cinta yang sejati itu tidak pernah musnah dan tidak boleh dimusnahkan. Yang harus kita lepaskan dan bersihkan bukanlah perasaan kasih itu sendiri, melainkan sifat rakus, kepemilikan semu, dan keinginan yang melanggar kebenaran. Karena itulah Semarajaya tetap hidup abadi sebagai roh kasih sayang yang tak terlihat mata, menjadi bukti nyata bahwa hal-hal yang paling berharga di dunia ini justru tidak memiliki wujud fisik. Kekuatan terbesar tidak selalu ada pada apa yang terlihat jelas di depan mata, melainkan pada apa yang menyusup ke dalam hati dan memberi makna sejati bagi kehidupan kita semua.
 
 
 

Tidak ada komentar: